Bokep Viral Terbaru P6 Nurul 18Yo Skandal 6 PEMERSATUDOTFUN

P6 Nurul 18Yo Skandal 6

Tidak ada voting

kamu melihat pesan ini karena adblocking menyala sehingga keseluruhan koleksi kami sembunyikan. kamu berusaha menghilangkan iklan maka kami juga akan menutup seluruh koleksi klik cara mematikan ADBLOCK
Download free VPN tercepat
Nurul, Skandal
Advertisement
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan adblock, gunakan 1.1.1.1
untuk menonton konten Nurul, Skandal yang ada pada kategori TEEN published pada 13 Mei 2024 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming P6 Nurul 18Yo Skandal 6 secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Content Yang Serupa :
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :



Kevin Demonic 2: Blood Sugar Sex Magic - 4


Dari bagian 3

Kali ini giliran Erwin yang menjelaskan padaku. Dia berkata kalau selama ini bandar besar dalam bisnis itu adalah seorang pria bernama Asen yang sudah menjadi buronan polisi. Asen memiliki pabrik percetakan CD dan vCD bajakan terbesar di Jakarta (dan Indonesia). Barang-barangnya dipasarkan di seluruh pulau Jawa dan Sumatera bagian Selatan.

Aparat keamanan telah beberapa kali menggerebek pabrik gelapnya namun Asen senantiasa berhasil lolos dan kini pabriknya terus beroperasi secara berpindah-pindah. Rupanya Asen selalu lolos berkat informasi yang didapatkan dari oknum kepolisian yang tidak lain dari Kapten Edi itu (Kapten Edi tidak bekerja sendirian namun dia adalah kaki tangan dari seorang oknum perwira menengah di mabes polri).

"Nasib Asen ada di tangan saya jadi kalau nanti bisnis ini sudah jalan dan sudah mulai memasuki pasaran, dengan mudah kita biarkan Asen ditangkap dan bisnisnya kita ambil alih".

Erwin kemudian menjelaskan strategi untuk itu. Sebagai awal, target pemasaran adalah wilayah Jawa Timur, Bali dan Kalimantan. Kemudian bila distribusi sudah semakin mulus dan kita sudah yakin dengan channel-channel kita ditiap daerah, baru kita produksi dengan tingkat kapasitas penuh dan mulai memasuki pasaran Jakarta dan seluruh pulau Jawa. Diperkirakan hal itu membuat volume peredaran CD dan vCD bajakan menjadi dua kali lipat hingga aparat akan makin bernafsu mengejar Asen. Kapten Edi dan 'backingnya' di mabes Polri akan terus membantu meloloskan Asen dari kejaran petugas hingga tiba saatnya kita siap mengambil alih secara penuh bisnisnya.

Pada saatnya nanti Asen di-'serahkan' pada yang berwajib, volume peredaran CD dan vCD bajakan otomatis akan turun drastis hingga setengahnya. Pada saat itu kitapun akan menurunkan volume produksi hingga 75 persen supaya tingkat peredarannya jadi terkesan sepi. Hal itu dipastikan akan membuat pihak kepolisian merasa berhasil menggulung bisnis vCD bajakan dan akan membuat operasi kita aman dari kejaran petugas selama bertahun-tahun kedepan.

"Kan jauh lebih baik kalau kita cuma produksi 75 persen tapi menguasai seluruh pasar tanpa saingan dibanding kita produksi dengan kapasitas 100 persen tapi cuma menguasai 25 persen dari pasar," ujar Felix seraya menyulut satu linting ganja yang kemudian diberikan padaku.
"Bagaiamana dengan bandar yang di Medan?" tanyaku sambil menghembuskan asap putih pekat yang memabukan itu.





"Namanya Chandra, sudah setahun terakhir ini pasarnya di Medan dan Batam diserobot sama vCD dan CD bajakan dari Singapura selain itu dia punya banyak kasus narkotik sama penyelundupan," kata Kapten Edi.
"Dia sedang kena kasus penyelundupan mobil mewah di Belawan selain itu banyak kurirnya yang ketangkap di Batam dan Palembang dalam kasus ganja.. Menurut teman saya di intel Polda Sumut, dalam waktu paling lama dua bulan Chandra bakal di-'kandang'-in".
Lalu dia melanjutkan lagi, "Bisnis vCD-nya di Medan dan Batam bakal diambil alih sama saingannya dari Singapur tapi kita nggak usah kuatir soalnya orang-orang Singapur itu cuma sanggup mendistribusikan barangnya sampai Medan dan Batam saja. Mereka nggak punya chanel buat daerah lain".

Aku terdiam sejenak mempertimbangkan 'proposal' yang cukup menantang ini. Erwin tampaknya menangkap isi benakku dan dia segera memberikan proyeksi mengenai keuntungan dan omset yang bakal aku terima. Angka-angka yang disebutkan Erwin sangat menggiurkanku apalagi mengetahui bahwa investasiku bisa kembali dalam waktu kurang dari tiga bulan. Aku memang semenjak mengambil alih semua bisnis ayah ingin sekali memiliki sebuah bisnis sendiri. Bukan bisnis peninggalan atau warisan tapi sebuah bisnis yang aku rintis sendiri di mana nama Kevin Demonic memiliki tempatnya sendiri dan bukanlah nama Kevin Lim anak dari almarhum Sutanto Halim yang jadi kaya berkat peninggalan orang tuanya.

"Kamu sendiri gimana lix? Apa Om Willy tahu rencana ini?" Tanyaku penuh selidik.

Felix menggelengkan kepala sambil mengibaskan tangannya seolah menganggap remeh hal itu. Dia lalu menepuk punggungku lalu berkata penuh keyakinan.

"Kevin.. Kita kan sudah bukan anak-anak kecil lagi. Sudah waktunya kita yang muda-muda punya usaha kita sendiri. Kita nggak usah gangguin yang sudah tua dengan urusan pribadi kita seperti ini," demikian katanya sambil mengangkat alisnya ke arah Erwin.
Erwin pun segera menimpali membenarkan, "Iya Kev. Percaya aja sama Felix. Selama ini kan semua bisnisnya jalan bagus dan nggak pernah ada masalah. Apalagi kita punya teman kayak Pak Edi ini yang bisa diandalkan," kata Erwin seraya tersenyum menyeringai.

Sungguh aku tidak suka melihat ekspresinya. Erwin bagiku adalah sebuah figur opurtunistis yang culas dan penuh ambisi. Baru saja aku mengenalnya namun insting tajam Kevin Demonic susah untuk dikelabui. Apalagi soal mengandalkan aparat seperti Kapten Edi itu. Pengalaman di bulan Mei lalu (baca episode 1) membuatku sedikitpun tidak percaya pada aparat di sini.

Sejujurnya akupun belum percaya seratus persen dengan Felix namun bisnis yang ditawarkannya sungguh merupakan sesuatu yang sepertinya aku idam-idamkan juga. Mengenai resikonya aku tidak begitu kuatir. Aku anggap bagai sebuah petualangan yang penuh tantangan dan jelas memiliki harga yang harus dibayar. Apapun harganya, Kevin Demonic siap dan mampu membayarnya lunas!

"Okelah. Tapi gua perlu beberapa hari buat mempertimbangkan ini," ujarku dengan penuh penekanan, "Saya pikir nggak ada yang perlu dipikirkan lagi, jadi bisa secepatnya ambil keputusan," kata-kata Kapten Edi memiliki nada kecemasan sekaligus sedikit menekanku.
"Iya Kev. Kapten Edi betul.. Lu musti.." ucapan Erwin segera disela oleh Felix yang rupanya menangkap ekspresi wajahku yang kurang suka pada pemaksaan secara halus seperti itu.
"Tenang aja. Kevin sendiri yang lebih tahu mengenai kondisinya jadi terserah elu Kev. Gua cuma mau kita punya bisnis sama-sama. Orang tua kita kan partner jadi kita juga seharusnya bisa jadi partner juga," katanya sambil mengelus pundakku seperti hendak meminta maaf atas penekanan yang dilakukan kedua rekannya itu.

Akupun segera mengumbar senyum dan mengangkat segelas Gordon Blue yang baru saja dituangkan oleh Rani sambil berucap, "Aku pasti pertimbangkan secepatnya. Ayo minum semuanya".

Suasanapun menjadi cair kembali dan selepas pembicaraan serius itu kamipun mulai memasuki bagian 'rileks' dan bersenang-senang. Kapten Edi segera pamit pada kami dengan alasan masih ada tugas ditempat lain sementara Felix mengeluarkan bungkusan plastik yang isinya segera ditebarkan diatas permukaan meja yang terbuat dari kaca di depan kami. Erwin pun segera menyambutnya dengan menunduk menghisap bubuk putih yang ditebarkan diatas meja itu hingga terbatuk-batuk.

"Kev. Cobain dong sekali-sekali. 100 persen murni dan bagus punya nih," kata Felix lalu kemudian diapun segera menikmati bubuk heroin kelas satu yang putih bagai salju di musim dingin itu.
"Gua nggak main yang beginian. Gua sih yang konvensional aja," kataku sambil menyulut lintingan ganjaku yang kedua.

Aku memang tidak suka dan tidak pernah mencoba yang namanya putaw, shabu-shabu, atau heroin. Bagiku itu terlalu berat dan kurang bisa dinikmati. Aku cenderung lebih menerima ganja atau inex. Saat Felix dan Erwin menghisap heroin itu bagai ayam sedang mematuk-matuk, aku asyik menikmati kepulan awan surga dari ganja yang kuhisap serta manis yang membius dari segelas Gordon Blue yang merupakan minuman favoritku. Aku jadi teringat waktu masih kecil aku suka mengendap-endap di malam hari membuka mini bar milik ayahku yang alkoholik dan mencicipi minuman koleksinya. Sejak masih sekolah dasar hampir tiap malam aku teler karena mencicipi berbagai minuman koleksi ayahku itu. Biasanya itu semua aku nikmati untuk menghilangkan sisa-sisa perihnya sabetan rotan dan ikat pinggang ayah yang hampir tiap hari meninggalkan bekas-bekas merah di sekujur tubuhku.

Kini semuanya telah berlalu dan saat ini aku Kevin si anak sial sedang berada di puncak kebebasan dan menikmati kemenanganku atas masa lalu yang begitu pedih dan suram. Rani dengan manjanya segera duduk di atas pangkuanku dan ikut minum bersamaku sambil sesekali menghisap ganja di tanganku. Tangannya begitu lincah dan lihai menelusup ke balik kemejaku dan membelai dadaku. Jari-jarinya yang terlatih kemudian dengan mudah menemukan boba dadaku lalu dimainkannya hingga menimbulkan rasa geli yang merangsang diriku untuk segera melakukan apa yang sedari tadi ingin sekali kulakukan padanya.

Tangan kiriku segera mendarat di dadanya dan dengan sekali remas, kurasakan nikmatnya toket berukuran 38 itu yang begitu kenyal dan kencang. Rani tertawa cekikikan sambil menghembuskan asap ganjanya dengan sembarangan ke wajahku. Felix tertawa melihat ulah manja dari hostes muda belia itu. Dia segera meraih remote control dan mengeraskan volume ketiga TV yang memutar lagu karaoke berirama cepat tanpa penyanyi lalu meminta Rani agar mempertunjukan 'kebolehannya' dengan menari bagi kami. Rani pun dengan 'hot' segera bangkit dan mulai menggoyangkan tubuhnya mengikuti hentakan lagu. Ruang karaoke yang cukup terang itu membuatku dengan jelas dapat melihat wajah Rani.

Dibalik make-upnya terlihat raut wajah gadis belasan tahun yang begitu ekspresif bergoyang dengan enerjik. Rani memiliki kulit kuning langsat dan wajah geulis khas Sunda yang begitu sensual dengan sepasang mata yang senantiasa mengerling penuh arti ke arahku. Dia memiliki tinggi tubuh sekitar 158-160cm namun memiliki sepasang 'asset' yang cukup besar di dadanya.

Dia memiliki pinggul yang indah dan bokong yang sekal dan montok. Semua 'asset'-'asset' yang dimilikinya itu turut bergetar mengikuti tiap goyangan tubuhnya. Erwin yang sudah cukup 'fly' ikut menari hingga naik ke atas sofa. Dia melepas kemeja yang dikenakannya hingga tinggal memakai singlet membuat tubuh kurusnya makin nampak merusak pemandangan. Aku dengan penasaran bertanya pada Felix kapan biasanya Rani 'manggung' di diskotiknya. Felix menjawab bahwa 'special show' (strip tease) biasa dilakukan sebulan sekali sampai dua kali di klabnya dan Rani tergabung bersama sebuah 'grup' penari erotis yang memiliki 'germo-nya' sendiri. Biasanya pada malam-malam dia tidak manggung, Rani bekerja sebagai hostess part-time di klab miliknya dan sekarang dia khusus di-booking buat menghiburku.

Sejak tadi Rani menari sambil menghisap sebatang ganja yang terselip pada jarinya. Dia tampak begitu menikmati ganja itu seperti dia menikmati tariannya sendiri. Felix tiba-tiba mengganti musik yang mengalun dengan musik yang berirama disko yang lebih menghentak dan cepat. Pada saat yang sama Rani telah menghabiskan lintingan ganja ditangannya dan tanpa dikomando segera melepas sepatu dan naik ke atas meja. Rani bergoyang dengan cara yang berbeda sekarang. Kini tubuhnya meliuk-liuk dengan sensual dan bergoyang dengan erotis sambil menonjolkan bagian-bagian vital dari tubuhnya. Terkadang dia bergerak bagai seorang penari ular, terkadang dia bergerak bagai sedang bersenggama.

Ke bagian 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.