kamu melihat pesan ini karena adblocking menyala sehingga keseluruhan koleksi kami sembunyikan. kamu berusaha menghilangkan iklan maka kami juga akan menutup seluruh koleksi
klik cara mematikan ADBLOCK
selalu guna GOOGLE CHROME serta Download free VPN tercepat
UC Browser, Operamini, dan browser selain google chrome yang tidak mematikan ad blocking menggunakan panduan di atas tidak akan dapat melihat content, harap maklum
Bokep Viral Terbaru perkaos 2 PEMERSATUDOTFUN

perkaos 2

Tidak ada voting
perkaos
perkaos 2
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan VPN, matikan adblock, Akses website pemersatu.fun anti blokir ISP (tanpa VPN) dengan Cloudflare DNS (KLIK DI SINI)
untuk menonton konten perkaos yang ada pada kategori TEEN published pada 27 Desember 2022 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming perkaos 2 secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :


Cerita Dewasa:


Jay, Sahabat Terbaikku


Aku mengenalnya sejak pertama kali kuliah. Saat itu aku sedang melakukan pendekatan dengan Chie. Perkenalan kami sangat singkat, namun dari tatapan mata masing-masing aku dan dia langsung menyelami arti sebuah keakraban. Karena seperti kata pepatah kuno, hanya setan yang mengerti setan. Waktu itu Jay juga sedang mengejar Chie. Jadi kami memutuskan untuk fair-play. Ah, memang teman lebih berharga daripada pacar. Akhirnya kami bersepakat untuk mengabaikan Chie yang kemudian mengamuk dan memutuskan untuk mengikrarkan tali persahabatan antara kami bertiga.
Jay, kembaranku.
Jay, sahabat terbaikku.

Chie adalah gadis penuh pesona. Gadis yang satu ini sangat unik. Jarang mungkin kita melihat seorang gadis indo dengan kulit putih, hidung mancung dan rambut kemerahan duduk menghabiskan waktu bersama teman-temannya di warung sate di pinggir jalan, dengan celana jeans sobek di lutut dan tangan yang melambai-lambai ke segala arah, setiap kata-kata riang keluar dari bibirnya. Itulah Chie. Gadis kaya yang lebih suka naik becak daripada Mercedes. Yang lebih suka minum es dengan murahan daripada minuman-minuman mahal yang tersedia di kafe-kafe. Itulah sahabatku, gadis cerewet yang berbicara seperti kereta api, yang kukenal sejak penataran mahasiswa baru. Chie, sederhana di balik gemerlap kehidupannya. Chie, gadis penuh pesona.

Januari 1999

"Raayy! Selamat ulang tahun..!" Jay memukul kepalaku dengan sisi organizernya.
"Ach," erangku.
"Sial lu, Jay."
Jay tertawa, mengambil tempat di kursi di depanku, menatapku lekat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Ray, tambah tua aja lu."
Aku tertawa dan menghisap Marlboro di jepitan bibirku dalam-dalam, tersedak saat sesuatu menutupi mataku.






"Raay! Siapa coba?"
Kudengar tawa Jay beriring tawaku sendiri. Kuangkat telapak tangan di mataku, menariknya ke depan sehingga pipi gadis itu menyentuh pipiku.
"Hadiah ulang tahun yang indah.." tawaku.
"Hei! Hei!" Jay berteriak gaduh.
Sementara kurasakan cubitan jari-jari mungil itu di pipiku.

Malang, pukul 01:15 WIB

Aku menikmati udara malam pegunungan ini, seakan-akan aku sendirilah yang memegang peranan hantu dalam kegelapan ini.
"Ray!" Sebuah suara lirih berbisik di telingaku.
"Chie sudah tidur."
Kupalingkan wajahku, menatap Jay yang sudah duduk di sebelahku. Jay menatap kerlipan lampu kota di bawah kaki kami. Aku dapat melihat alis matanya yang berkerut.
"Untukmu?" senyumku sambil menatapnya.
Jay berpaling, menatap pandanganku. Bibirnya sedikit terbuka. Jay menolehkan kepalanya ke arah mobil. Tertawa kecil.
"Ah.. terima kasih," suaranya terdengar sendu, "Kamu?"
"Aku sudah menimbang-nimbang," jawabku.
"Kamu lebih serius, kan?" Jay menatap lekat pandangan mataku. Aku hanya tertawa saat kepalannya menyentuh lenganku.
"Thanks, but no thanks."
Kami tertawa berbarengan. Dan kubiarkan Jay larut dalam lamunannya. Ah, Jay. Masih banyak gadis untukku. Dan hanya satu gadis untukmu. Seandainya hal ini benar, mungkin pelabuhanmu sudah dekat di depan mata.

Sementara aku pun akan tetap tenggelam dalam tarian jemariku di atas tuts-tuts mesin tik tua kesayanganku, dan gadis-gadisku tentu saja. Dari sudut mataku, kulihat gadis itu meringkuk di jok belakang. Wajahnya melukiskan kebahagiaan dan ketenangan. Di sebelahku, Jay menikmati kepulan asap rokoknya yang membuyar di balik dedaunan pohon yang mengelilingi kami.

Surabaya, pertengahan Mei 1999

Kupeluk tubuh itu erat-erat. Merasakan kehangatan air matanya yang membasahi dadaku.
"Ray.." kudengar gadis itu meratap terisak dalam dekapanku.
"Chie, sudahlah."
"Ray, Papa udah nggak ada."
Kuusap belakang kepalanya, menekan tengkuknya, berusaha melegakannya.
"Ray tahu."
Chie menangis dalam pelukanku, membuatku sejenak mengingat ayahku sendiri yang selalu berkutat dalam pertempurannya dengan idealisme yang kumiliki. Terkadang aku membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah. Mungkin aku takkan sesedih Chie, mungkin juga.
"Ray! Di dalam saja!" Mama Chie memanggilku masuk.
Kupeluk pundak Chie dan menggandengnya, merasakan tubuh itu menggigil di lenganku.

Saat itu aku sangat ingin memarahi Jay. Sebagai seorang kekasih dan seorang teman, tidak seharusnya ia meninggalkan Chie seperti ini, dan sekedar meneleponku untuk menyampaikan, "Ray, maaf aku tidak bisa ke rumah Chie. Aduh. Aku benar-benar ada masalah dengan Papa, jadi aku nggak bisa keluar." Ah, hanya segitu saja? Jay. Terkadang aku menyesal menyerahkan Chie kepadanya. Seandainya aku..

Surabaya, awal Juni 1999

Persiapan ujian benar-benar membuat kami sibuk. Aku mulai berkeliling kota mengumpulkan foto copy makalah dan paper yang dibutuhkan. Aku memang malas kuliah, aku harus mengakuinya. Yah, aku sudah merasa cukup senang dengan kehidupanku sekarang tanpa harus terbebani kuliah seperti orang-orang kebanyakan yang lebih memuja akademik daripada skill.

"Halo?"
"Ray?"
"Oh, Chie. Ada apa? Kok malam-malam?"
Sejenak keheningan terdengar dari seberang, membuatku bertanya-tanya.
"Aku.. aku kangen Papa," suara gadis itu terdengar gemetar.
Ah, Chie. Masih tetap larut dalam kesedihannya.
"Aku besok ujian, Chie."
Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30 malam.
"Ray.."
Ah! Selalu seperti ini.

Rumah Chie terlihat sedikit gelap. Kuparkir mobilku di depan pekarangan rumahnya. Chie melambaikan tangannya dari atas balkon. Wajahnya terlihat berseri-seri, membuatku sedikit mendongkol karena masuk dalam jebakannya. "Hihihi, ada Ray." Chie mencondongkan kepalanya ke depan dari balik pagar dengan sikap manja. "Pulang dulu, ya?" ucapku, membuatnya menarik kepalanya dan meruncingkan bibirnya. Kuulurkan tanganku ke sela jeruji pagar, menarik pipinya, membuatnya mengerang, membuka pagar dan memukuli pundakku.

"Ray, bagaimana menurutmu tentang keperawanan?" Ahk. Nyaris saja kopi susu itu keluar dari mulutku dan membasahi foto copy makalah di atas meja.
"Hah? Kenapa dengan itu?"
Chie terdiam sesaat, menghentikan gerakan ballpoint di tangannya.
"Chie?" tanyaku.
"Nih, rokok."
Chie menyambar bungkus Marlboro di tanganku dan membuangnya ke sudut ruangan. Menjentikkan jemarinya memanggil saat aku tergopoh-gopoh memungut rokok mahalku sambil menggerutu.
"Dasar! Siapa suruh diam," kataku setelah mendudukkan diriku di sampingnya, dan menyimpan bungkus rokok itu di tempat yang aman.

"Ah, Ray," Chie mendesah.
"Aku hanya bertanya," kata Chie.
"Masalah apa?" tanya Ray.
"Yang tadi itu," kata Chie.

"Chie, bagiku keperawanan itu sama saja bagi semua orang. Keperawanan itu datang dari hati, bukan dari sekedar selaput dara ataupun yang biasa disebut orang-orang darah malam pengantin."
Kunyalakan batang rokok di sudut bibirku.
"Seandainya saja pikiran kita sudah lebih terbuka, mungkin Indonesia sudah kehabisan perawan. Hahahaha.."
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. Membuatku salah tingkah dengan kegelianku sendiri. Sial benar.
"Ray.."
"Ya?"
"Kukira aku sudah tidak perawan lagi.."

Surabaya, Keesokan Harinya

Kucengkeram kerah baju Jay dalam genggamanku, dan mengangkat kepalanya mendekatiku,
"Maksudmu apa?" desisku berang.
Jay memandang mataku, dan melengos ke arah lain.
"Maaf, Ray."
"Hanya maaf?" Gertakku sambil mengguncang kerah bajunya.
"Cukup segitu?"
Jay terdiam. Kulepaskan kerah bajunya.
"Kenapa tidak terus, Ray?"
"Aku.. aku akan membiarkanmu dalam dosa-dosamu."

Kulangkahkan kakiku meninggalkannya. Meninggalkan Jay. Meninggalkan..
"Ray," Jay berseru di belakangku, "Ingat, sobat. Inilah kita."
Aku tak mau menoleh. Aku tak ingin mendengarnya. Ucapan itu sangat pahit dan mengena. Dan karena itu pulalah aku tidak menghajarnya, walaupun itu adalah tujuanku sejak semula. Aku juga seperti dia.

Seperti Jay. Sibuk mendoktrin gadis-gadis tentang kenikmatan free-sex. Sibuk memburu keperawanan bidadari-bidadari lugu. Tapi bukan Chie. Karena Chie adalah seorang sahabat. Bukan gadis yang berhak masuk dalam katalogku. Setan, umpatku dalam hati. Dan itulah Jay, kembaranku, sobat terbaikku.

Surabaya, awal Agustus 1999

"Chie.."
Kurasakan nafas Chie yang memburu saat mulutnya melumat bibirku dan jemarinya membuka kancing-kancing bajuku.
"Chie, jangan!"
Chie mendesah. Menghentikan lumatan bibirnya, menjatuhkan kepalanya di dadaku. Air mata mulai membasahi dadaku yang terbuka.
"Chie.." desahku, mengusap ubun-ubun kepalanya.
"Ray.."
"Hmm.."
"Kamu pikir akan ada yang mau menikahiku kelak?"
Ah, Chie. Pertanyaan yang sangat sukat untuk kujawab. Apalagi di saat-saat seperti ini. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa nafsu yang bergejolak dalam diriku.

"Ray.."
"Ada, pasti ada suatu saat nanti," desahku.
"Seorang cowok keren dengan pikiran terbuka?"
"Minimal bule, deh."
Kurasakan Chie meremas lenganku, memberikan respon atas guyonanku yang nyaris tidak pada tempatnya.
"Bule? Kalau kamu?" Chie menghela nafasnya.
Aku, aku? Ah.
"Iya."
"Sungguh, Ray?" Chie mengangkat kepalanya, senyumnya mengembang di sela air mata yang mengaliri pipinya.
"Tentu, seandainya Enni sudah menikah dengan orang lain dan aku masih belum bisa menemukan pelabuhanku."
Chie meruncingkan bibirnya, dan menjatuhkan kepalanya kembali di dadaku. Menggerakkan telunjuknya menelusuri garis-garis dadaku, membiarkanku tertawa kecil.
"Kamu sama saja dengan mereka, Ray. Egois."
Tuduhan itu membuatku terdiam. Benarkah?
"Ray, kamu tahu?"
"Apa?"
"Masalah Jay. Waktu itu.. aku yang memintanya."
"Ah?"

Surabaya, Keesokan Harinya

"Ray, si pemburu. Menemuiku dan meminta maaf?"
Kutatap mata Jay, mencoba menyelami perasaannya, sama seperti dulu. Namun yang kutemukan bukanlah pancaran liar dan haus yang biasa kurasakan saat-saat kami masih bersama. Ini pancaran yang jauh lebih dewasa, yang membuatku merasa demikian kecil di hadapannya.
"Jay, Chie menyuruhku ke sini. Aku butuh penjelasan."
"Sayang, emosimu membuyarkan penjelasanku waktu itu."
"Maaf," desahku, bahkan kini aku pun tak mampu memandangnya.
"Hanya maaf?" Jay tertawa.
"Cukup segitu?" tanya Jayu lagi.
Ironis. Namun aku tak tahu harus tertawa ataukah menangis mendengar sindiran itu.
"Entahlah.." sahutku lirih.

Jay bangkit berdiri, menuju ke sudut ruangan dan mengangkat gagang telepon. "Hallo?"
Hening sesaat merasuki suasana.
"Ray? Oh dia ada di sini, ke sini saja. Sepi kok!" Jay tertawa kecil.
Huh?
"Kalian berdua. Aku menyayangi kalian."
Chie mengangkat kedua lengannya, meraih dan memeluk kami berdua dalam dekapannya. Aku sedikit terguncang. Chie. Beginikah perasaanmu sesungguhnya?
"Aku merindukan saat-saat ini."
Kulihat Jay tersenyum dan memejamkan matanya. Aku merasa bingung, terlalu banyak rahasia yang masih tidak kupahami selama dua bulan ini.
"Aku akan berangkat ke Australia akhir Oktober."
Aku terenyak, mengangkat tubuhku dan menatap matanya bertanya-tanya. Jay terlihat diam, matanya masih terpejam.
"Chie akan menikah enam bulan lagi."
Ah? Bahkan aku pun tidak tahu?
"Bisnis," Chie mendesah.
"Ah.. ah..?"
Chie merasakan kebingunganku.
"Jay, pinjam kamarnya."
Jay hanya tersenyum, matanya masih terpejam. Jay, kenapa dia bisa setenang itu, kenapa seakan ia tidak mau melihat apa yang sedang terjadi?

"Ray, aku sayang kamu," Chie memelukku dengan kedua lengannya.
"Aku juga, Chie. Tapi.."
"Sshh.. mohon jangan menolakku sekarang."
Chie mengecup bibirku, meraih tombol lampu, membiarkan kegelapan menyelimuti kami berdua.
"Chie.." desahku.
Chie mendekap mulutku dengan bibirnya, menjatuhkanku di samping tempat tidur.
"Aku ingin bercinta denganmu, Ray."
"Jangan, Chie!"
Kupegangi kedua pundaknya, menjauhkan kepalanya.
"Sebelum aku menjadi milik bule. Ingat?" Senyumnya mengembang.
Bule? Ah, Chie. Itukah sebabnya kamu diam saja mendengar selorohanku tempo hari? Dan aku tak bisa menolak ketika Chie mulai menciumi leherku dan membuka retsleting celanaku, menelanjangiku, membiarkanku mendesah saat jemarinya menyentuh batang kemaluanku.
"Sentuh aku, Ray!" desahnya di dadaku.
Kusentuh tubuh indahnya, membantunya melepas baju dan branya. Nafsu sudah memenuhi rongga-rongga kepalaku, membuatku terengah dan mendesah saat rabaanku menemukan kemaluannya di balik roknya yang tersingkap.
"Chie.."
"Aku sayang kamu, Ray."

Kuterlentangkan tubuhnya, kuciumi buah dadanya yang telanjang, menikmati gesekan kemaluan kami yang beradu.
"Ray.."
Chie mengerang lirih saat batang kemaluanku menusuk liang kemaluannya. Kunikmati setiap bagian kemaluanku yang mendesak masuk. Sempit, hangat. Kaki-kaki Chie mulai melingkari pinggulku yang bergerak-gerak menekan. Erangan dan desahan nafas kami terdengar memenuhi ruangan. Kunikmati kehangatan liang kemaluannya saat batang kemaluanku menyesakinya, menggerak-gerakkan pinggulku, meresapi segala rasa yang dihadirkannya dalam sanubariku. Kugigit bibirnya, merasakan kepalanya yang terangkat dan cengkeraman kuku-kukunya di kulit punggungku.
"Chie.. aku mau keluar.."
"Di dalam, Ray.."
"Jangan!"
Chie mempererat rangkulan kaki-kakinya di pinggulku, mengangkat pinggulnya dan menekannya kuat-kuat, batang kemaluanku sekejap nyeri merasakan tekanan itu, dan tanpa bisa kutahan lagi, kepalaku terangkat dan spermaku tersembur keluar.
"Chie.." erangku tertahan, mataku terpejam.
Kurasakan otot-ototku menegang dalam kenikmatan yang kurasakan. Demi Tuhan. Baru kali ini aku menyemburkan spermaku di dalam liang kemaluan seorang gadis. Betapa aku menikmati ketakjuban perasaan yang dibawanya. Perasaan yang hilang saat aku terpaksa menarik keluar batang kemaluanku dan menyemburkannya di atas perut gadis-gadis itu.
"Ray.." Chie mendesah lirih saat bibirnya menyentuh bibirku.

Kukecup bibirnya dengan lembut. Betapa aku sangat menyayangi gadis ini.
"Ray, masih ingat kamu pernah berkata bahwa kamu hanya mau berhubungan seksual dengan gadis yang bukan perawan," Chie tertawa kecil.
"Ray, Aku masih perawan."
Ah! Aku tertawa kecil. Sudah kuduga. Aku bukanlah seorang bodoh yang tak bisa membedakan perawan dengan tante-tante. Kini semua rangkaian cerita sudah lengkap.

Akulah Ray. Si pemburu gadis-gadis perawan. Mengembangkan otakku untuk memperawani mereka. Tanpa mereka sadari. Aku yang pantang bercinta dengan perek dan pelacur. Akulah Ray.

Kuusapkan keringat di wajahku ke kulit dada gadis di bawahku, sebelum aku bangkit berdiri dan memunguti pakaianku, mengenakannya, dan meninggalkan ruangan gelap itu, sesaat setelah Chie merangkulku dari belakang.
"Ray, aku menyayangimu."
Ah, Chie. Aku pun juga. Jangan katakan lagi. Itu menyakitkan.

Jay menunggu di ruang tamu. Matanya menatapku saat aku keluar dari kamar. Jay bangkit berdiri dan menghampiriku. Kutunggu saat-saat kepalannya menghajarku. Namun sebuah tepukan di pundakku membuka mataku. "Ray, kapan aku bisa mengalahkanmu?" Jay tersenyum pahit. Kurangkul dia dan kubiarkan air mataku membasahi bahunya.

Penutup

Jay menyukai Chie. Ia serius. Aku dapat merasakannya dari setiap pertemuan kami, dan aku menghargainya. Karena bagiku Chie tak lebih dari sekedar bunga mawar yang jingga di antara kumpulan bunga-bunga mawar merah di kebunku. Chie menerima Jay menjadi kekasihnya, dan itu membuatnya menipu perasaannya sendiri. Karena Chie lebih memilihku. Sayang. Seharusnya aku sudah bisa menduga ketidak-harmonisan hubungan mereka ketika ayah Chie meninggal dunia. Tepat siang itu mereka berdua sudah memutuskan untuk mengakhiri kemunafikan itu. Tapi Jay dan Chie tidak bercerita padaku, mungkin takut mendapatkan respon negatif dariku. Chie lalu bercerita pada Jay mengenai acara pernikahannya dengan anak rekan bisnis ayahnya dari Australia untuk menyambung eksistensi bisnis peninggalan ayahnya. Chie juga bercerita padanya (aku tak tahu bagaimana perasaan Jay saat itu) bahwa ia ingin menyerahkan keperawanannya padaku, sebelum menjadi milik orang yang sama sekali asing baginya. Oh God.

Jay memang harus diakui memiliki hati dan jiwa yang sungguh luar biasa. Jay malah menawarkan pada Chie untuk membantunya, karena Jay sadar, untuk mendapatkanku adalah hal yang sangat susah untuk dilakukan, apalagi oleh Chie seorang diri. Jadi mereka mulai menyusun rencana. Chie memanfaatkan salah satu prinsipku, yaitu bahwa aku takkan berhubungan seksual terang-terangan dengan gadis yang masih perawan, sehingga ia mencoba membuatku percaya bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Dan untuk itu Jay bersedia berkorban, karena hanya dialah yang terdekat dengan Chie, selain aku. Ah, Jay.

Dua bulan lamanya Chie berusaha merayuku untuk melakukan hubungan seksual, namun yang didapatinya hanyalah keteguhan hatiku dan penolakanku, aku mengakui, bahwa aku sering tergoda dan nyaris tak berdaya, namun kenangan atas persahabatan itulah yang mungkin kurang diperhitungkan oleh Chie dan Jay. Aku mengasihi mereka.

Malam itu, saat Chie mengakui bahwa ialah yang meminta Jay memperawaninya, Chie rupanya sudah berputus asa merayuku, dan akhirnya mencoba membangkitkan emosiku. Bukan emosi terhadap Jay, melainkan terhadap dirinya. Sehingga aku, entah bagaimana, terpancing untuk datang ke rumah Jay demi menuntut penjelasan. Dan entah kenapa pula aku mau melakukan hubungan seks itu dengan Chie. Aku tahu ia masih perawan. Aku tahu itu, aku bukan seorang bodoh. Namun kata-kata "bule" itu menambah emosi yang memang sudah terpancing sebelumnya. Dan perbincangan dengan Chie sebelumnya akan makna keperawanan membuatku semakin hanyut dalam percintaan itu. Akhirnya Chie berhasil mendapatkanku. Sesaat setelah percintaan itu, aku mulai bisa menebak berkas-berkas fakta yang sebelumnya terasa begitu gamang. Dan itulah yang membuatku tertawa. Tertawa paling pahit yang pernah kudengar dari mulutku.

Chie, sekarang sudah menjadi istri pengusaha kaya raya, dan bule. Aku sendiri juga heran, kenapa setelah saat itu Chie tidak mengandung anakku. Entahlah, itu urusan wanita. Dan aku masih sering menghubunginya. Aku bangga, karena suaminya adalah seorang bule yang benar-benar bule, yang "open minded". Chie memiliki seorang anak dan anak itu bernama depan Ray. Pahit dan menyenangkan. Chie tak pernah masuk ke alam daftar gadis-gadisku. Karena ia adalah temanku, sahabatku, orang yang kukasihi.

Jay? Jay sekarang ada di sebelahku, dengan rokok Dji Sam Soe kretek di bibirnya. Berteriak-teriak protes di sisi kupingku, karena menurutnya, seandainya saja saat itu tidak ada rencana yang sudah terbentuk, ia pasti sudah melayangkan bogem mentahnya ke rahangku. Kami masih sering berkelana di dunia fana, menemani hantu-hantu malam yang berkeliaran di naungan kepak-kepak sayap cinta dan kasih sayang, mengembangkan layar mencari pelabuhan perhentian kami.

Kami bertiga masih berteman. Sampai sekarang.
Ray, pemuja kasih dan seorang pecinta.
Jay, kembarannya, dan sahabat terbaiknya.
Chie, sederhana dalam gemerlap, gadis penuh pesona.

RAY, dan JAY.

Chie.. We love you.

Kasih, pengorbanan dan kesabaran cinta, keinginan dan ego manusia cinta sejati, cinta dan kasih yang berpelukan.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Bokep Viral Terbaru perkaos (2) PEMERSATUDOTFUN

perkaos (2)

Tidak ada voting
perkaos
perkaos (2)
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan VPN, matikan adblock, Akses website pemersatu.fun anti blokir ISP (tanpa VPN) dengan Cloudflare DNS (KLIK DI SINI)
untuk menonton konten perkaos yang ada pada kategori TEEN published pada 21 Desember 2022 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming perkaos (2) secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :


Cerita Dewasa:


Kenikmatan Nia


Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri karena ini merupakan pertama kali saya menuliskan pengalaman seks saya, jadi saya mohon maaf apabila kata-kata saya ada yang kurang berkenan.

Nama saya Firman, saya berusia 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan-jalan dengan teman-teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.

Saat saya sedang melintas di jalan "S" saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan.

Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa-apa.

Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya
"Hallo, Firman ya?"
"Siapa nih?", tanya saya
"Nia, masa lupa yang semalam kenalan.."
"Oh, iya.. lagi dimana nih."
"Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?"





"Ehmm, nggak ada tuh kenapa?", jawab saya
"Bisa jemput?"
"Ya udah dimana?"
"Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00"
"Ok"

Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok M
Sesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi.
"Mau kemana nih?" tanya saya
"Terserah kamu aja.."
"Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?"
"Ok", jawabnya dengan santai.
"Ga takut?", tanya saya
"Takut apa?"
"Kalo diperkosa gimana?"
Tapi dia dengan santainya menjawab, "Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he.."
sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku.
Kemudian saya bertanya, "Bener nih?"
Dia menjawab, "Siapa takut?"

Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia.
"Bener nih nggak takut diperkosa?"
Dia malah menjawab, "Mau perkosa aku sekarang?" ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu.
Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, saya ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BHnya.

Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya.
"Ahh.. esst.. terus yang..", Nia udah mulai meracau tidak jelas saat lidah saya turun ke dadanya diantara kedua bukitnya.
Lidah saya terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada pentilnya.
Nia mendesah-desah, "Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep Man.."
Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya.

Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya teteknya ke mulutku.
"Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man.."
Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas tetek sebelah kanannya.
"Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yang keras Man gigit Man ohh..", racaunya.
Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya.

Nia pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah 'adekku' yang sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana.
"Gila gede banget Man punya elo.."
Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya.
"Ah.. enak Ni terus Ni" aku pun menahan nikmat yang luar biasa.
Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir memeknya Nia mendesah.
"Ah.. enak Man esst.. terus Man.."
Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian itilnya.
"Ahh.. ma aku sampai Man.." sambil mulutnya terus mengelum kontolku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada kontolku maka aku merasakkan denyut-denyut pada kontolku.
"Ni, gue juga mau sampai Ni ahh.."
"Barengan ya.."
Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati kontolku dan akhirnya..
"Acchh.. ach..", crot.. crot.. crott.., 8 kali kontolku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan.

Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh kontolku hingga bersih.

"Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..", kata Nia
"Emang suami kamu kemana?"
"Ga tau tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue"
"Lho kamu dah punya anak?"
"Udah umur setahun, Man"

Kemudian Nia memeluk saya dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah saya, lalu saya cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memgang kemaluan saya yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis 'adikku' langsung berdiri dan mengeras.

Kemudian Nia menaiki tubuh saya lalu menjilati habis seluruh tubuh saya mulai dari mulut hingga ujung kaki.
"Ach.." desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.
Kemudian Nia mengulum kontolku terlihat jelas dari atas bagaimana kontolku keluar masuk mulutnya yang mungil itu.
"Ah. sst.. enak Sayang terus sedot Sayang achh.." desahanku semakin mengeras.
Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia diatas tubuhku lalu aku menjilati memek Nia dan kuisep itil Nia.
"Ahh.. enak Man terus Sayang, aku Sayang kamu achh.." desah Nia meninggi.

Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan dia memegang 'adikku' yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang memek setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan-lahan masuklah kontol saya ke liang senggama Nia
"Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamu yang" lirih Nia.
"Punya kamu juga sempit banget Yang, enak.. ah.." kataku.
Perlahan-lahan aku tekan terus kontolku ke dalam memeknya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat kontol saya seperti disedot-sedot.

Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang.
"Ahh.. Sayang aku keluar Yang, ahh.." racaunya.
Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas kontolku yang ada di dalam memeknya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kuentot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini.
"Ahh.. Sayang aku keluar lagi Sayang ahh.." Desah Nia.
"Kamu lama banget sih Sayang" desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar.
"Ahh terus Sayang sstt enak Sayang terus.." racaunya.
"Iya aku juga enak Sayang terus Sayang ahh.. enak Sayang mentok banget ah.." racauku tak kalah hebatnya.

Akhirnya setelah aku mengentot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian kontolku.
"Sayang, aku mau keluar Sayang"
"Mau di dalam atau diluar Sayang?" kataku.
"Bentar Sayang aku juga mau keluar lagi nih ahh.." desah Nia.
"Di dalem aja Sayang biar aku tambah puas" desah Nia lagi.

"Ahh.. sst.. Sayang aku keluar Sayang ahh.." racauku
"Barengan Sayang aku juga sampai ah.. ahh.. oh.." desah Nia.
"Ahh.. Sayang aku keluar Sayang ahh.. sst.. ohh.." desahku.
"Aahh" menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali.
"Emmhh.." saat itu juga si Nia mengalami orgasme.
"Makasih ya Sayang" kata Nia sambil mencium bibirku mesra.

Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kami sempat 'main' lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing-masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali kontolnya kedalam memeknya.
"Bless.. ahh.. sst.. enak Sayang ahh.." racaunya mulai menikmati permainan.
Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas kontolku dan aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging langsung aku entot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun.

"Ah.. Man aku mau keluar Man.." desahnya.
"Man aah..", terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi kontolku.
Karena kondisi Nia yan gl;emas maka aku memutuskan untuk melepaskan kontolku dan Nia melanjutkannya dengan mengulum kontolku hingga akhirnya..
"Ni aku mau keluar Sayang.. ah..", Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah kontolku sehingga terlihat kontolku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu.
Dan ketika Nia menyedot kontolku maka..
"Ah.. Ni.." akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan kontolku dengan menjilati sisa-sisa seluruh sperma yang ada.

Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak.

Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kami masih sering melakukan hubungan intim.

*****

Kapan-kapan akan saya ceritakan kembali pengalaman seks saya yang lain bersama Nia dan teman-temannya dalam sebuah pesta seks.

Buat para pembaca yang ingin memberi komentar atau saran atau ingin berkenalan silakan kirimkan email ke [email protected] pasti akan saya balas, OK.

E N D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Bokep Pemersatu Bangsa :
BOKEP LUCAH PEMERSATU.FUN | BOKEP INDO | VIDEO PEMERSATU ORG | MANGA PEMERSATU ORG | HIJAB PEMERSATU TOP | MANGA PEMERSATU TOP | DOOD PEMERSATUFUN SITE | VIDEO PEMERSATUDOTFUN COM | BOKEP PEMERSATUFUN COM | PEMERSATUFUN COM
Tips agar bisa menonton : Download VPN Free Tercepat | Download Google Chrome | atau Matikan adblock jika menggunakan uc mini, opera, dan lainnya