kamu melihat pesan ini karena adblocking menyala sehingga keseluruhan koleksi kami sembunyikan. kamu berusaha menghilangkan iklan maka kami juga akan menutup seluruh koleksi
klik cara mematikan ADBLOCK
selalu guna GOOGLE CHROME serta Download free VPN tercepat
UC Browser, Operamini, dan browser selain google chrome yang tidak mematikan ad blocking menggunakan panduan di atas tidak akan dapat melihat content, harap maklum
Bokep Viral Terbaru perkaos 2 PEMERSATUDOTFUN

perkaos 2

Tidak ada voting
perkaos
perkaos 2
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan VPN, matikan adblock, Akses website pemersatu.fun anti blokir ISP (tanpa VPN) dengan Cloudflare DNS (KLIK DI SINI)
untuk menonton konten perkaos yang ada pada kategori TEEN published pada 27 Desember 2022 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming perkaos 2 secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :


Cerita Dewasa:


Setali Tiga Uang - 2


Dari bagian 1

Saya langsung berjalan menuju body yang indah itu. Saya langsung menuju toketnya dan menciuminya.
"Ohh.. enak banget sayang.. terus jilat susu gue.. eehh.. iihh..", katanya sedikit mendesah.
Tiba-tiba saya berhenti menciumi toketnya dan tersenyum padanya.
"Eitt.. mandi dulu donk..", kataku.
"Gus kamu jahat banget.. kan tanggung..", katanya sedikit merengek.
"Ntar aja abis mandi.. Mbak nanti saya puasin dari ujung rambut sampe ujung kaki..", kataku membujuknya supaya mandi.
"Janji ya Gus.. pokonya kalau gue gak di apa-apain abis mandi.. gue teriak keluar kamar..", katanya.
"Iya.. masa bo'ong sih.. nih liat.. dia aja bilang mau..", kataku sambil membuka handuk dan memperlihatkan kontol saya yang sudah menegang. Mbak Susi tersenyum manja, lalu pergi ke kamar mandi. Dan terdengarlah bunyi shower dari dalamnya.

Saya menunggunya sambil menonton TV. Lalu saya menyiapkan kondom yang selalu saya bawa setiap saat, dan ternyata ada gunanya juga. Setelah beberapa saat saya menunggu, Mbak Susi keluar dari kamar mandi. Ia hanya melilitkan handuk di sekeliling badannya. Karena handuknya tidak terlalu besar maka yang tertutup hanya setengah toketnya sampai ke pahanya, persis di bawah selangkangannya. Dengan rambut yang agak basah, ia tersenyum padaku.

"Gus.. udah nih.. udah bersih..", katanya sambil berjalan mendekati kasur.






Melihat pemandangan itu, badan saya langsung memanas. Jantung saya berdebar cepat dan badan saya memerah. Mbak Susi terlihat sangat seksi dan membuat saya bernafsu pada saat itu. Setelah mendekati saya, Mbak Susi langsung membuka handuknya. Ia langsung naik ke atas badanku yang pada saat itu sedang terbaring sambil menonton TV. Badannya menghalangi pandangan saya. Tetapi badannya lebih bagus dan acara di TV pun pasti kalah. Saya berpura-pura untuk terus menyaksikan acara TV.

"Gus.. kamu mau nonton ya? kamu gak mau sama bodyku..", katanya sambil memegang kedua toketnya dengan kedua tangannya.

Tanpa aba-aba, tangan saya langsung menarik kepalanya. Kami langsung berciuman. Kami melakukannya dengan sangat liar. Seperti biasa lidah kami bertemu dan saling mengisi setiap ruang mulut kami berdua. Tangannya langsung membuka setiap kancing kemejaku. Lalu dia menciumi leher, dada hingga menuju perut saya.

"Wuihh.. dada kamu ok juga Gus.. seksi juga..", katanya sambil memperhatikan dada bidang saya.
"Dada Mbak juga seksi..", kataku sambil berusaha mencium salah satunya.

Setelah sampai pada salahsatu toketnya, saya langsung melumatnya, menciumnya, mempermainkannya dengan lidah saya, dan kadang agak saya gigit sedikit puting toket itu. Sedang toket yang lain tidak luput dari remasan tanganku.

"Ahh.. gii.. la.. ehhmm.. gila.. shh.. ehmm.. teruss.. oohh.. gii.. la..", desahnya.
"Gus.. isep.. terus.. iss.. ep.. di.. di.. ujung.. uuhh.. gi.. la.. ehheehh.. aaw..", desahnya lagi.

Dari mulutnya banyak terdengar kata "Gila", makanya saya sedikit hapal desahannya. Toketnya yang lain saya perlakukan sama. Lalu badanku didorongnya ke ranjang dan masih tetap Mbak Susi berada di atas saya. Tangannya langsung menuju ke arah jins saya. Setelah terbuka, tangannya secara kasar langsung masuk ke dalam CD saya dan langsung menarik keluar kontolku yang sudah menegang dan keras. Kontolku langsung di kulumnya, di dalam mulutnya kontolku dipermainkannya. Kadang diisap, dijilat, dan dan perlakuan lainnya yang membuat saya keenakan dan lupa segalanya.

"Iyah.. terus Mbak.. mmhhmm..", desahku atas pelakuannya itu.

Sesekali matanya melirik ke arahku sambil terus menciumi kontol saya. Tangannya juga mengocok pangkal kontolku yang membuat badanku bergetar dan bergerak ke kanan dan kiri. Setelah beberapa lama kontolku dilepasnya.

"Kamu doyan yah.. mau lagi gak?", katanya sambil merayu.
"Siapa yang gak doyan Mbak? enak banget rasanya.. pasti mau donk..", kataku.
"Kamu koq gak keluar-keluar sih? kamu kuat juga kalo di sepong..", katanya.

Mendengar kata itu saya sedikit tersenyum, baru kali ini saya mendengarnya darinya.

"Kalo digituin sih saya kuat Mbak.. tapi kalo kontol saya masuk ke memek.. wuihh gak tau deh.. gak kuat kali..", jawabku sambil merayunya.

Setelah kami berdua telanjang, Mbak Susi langsung menarik badan saya ke arahnya. Sekarang posisi saya berada si atasnya.

"Nah sekarang giliran gue donk Gus.. tadi kan Agus udah..", katanya.
"Ok Mbak.. selamat menikmati..", kataku sambil merayunya dengan basa-basi.
"Puasin gue sayang..", katanya sambil memejamkan matanya.

Seperti biasa pertama saya menciumnya dengan liar. Seluruh wajahnya tidak ada yang luput dari ciumanku. Lalu seluruh pemukaan leher saya jilat dan cium.

"Ohh.. gi.. la.. nikmat.. terus.. geli.. mmhh..", desahnya.

Kemudian saya cium bagian telinganya. Badan Mbak Susi mulai bergetar dan bergerak-gerak. Pada waktu saya menciumi bagian belakang telinganya, gerakan badannya bertambah kencang dan kepalanya seperti berusaha menutupi bagian itu.

"Gus.. geli.. sshh.. gi.. la.. ehheehh..", desahnya sambil badannya bergerak-gerak.
"Terus.. hheehh.. ennak.. aahh.. hhii.. hi.. hi.. sshh.. udah.. udah.. say..", katanya sambil mendorong badanku.
"Gus.. jangan.. disitu terus.. geli.. tuh liat memek gue.. banjirr..", katanya sambil menyuruhku memegang daerah sekitar memeknya. Dan memang sudah basah sekali, disekitar memeknya banyak cairan bening yang membuat tangan saya terasa licin pada saat memegang memeknya. Dan tanpa aba-aba saya langsung menciumi dadanya, menghisap, mengulum dan menjilati seluruh permukaan toketnya.
"Oohh.. isep yang kenceng.. mmhhmm.. gila.. enn.. akk.. aduh copot deh susu gue.. aahh..", katanya sambil terus mendesah.

Saya sengaja berlama-lama disekitar toketnya. Mbak Susi semakin menggila dan sesekali berteriak-teriak kecil yang membuat saya semakin bernafsu. Seluruh permukaan toketnya terlihat sangat basah oleh perbuatan saya. Teriakannya semakin keras dan membuat saya sedikit was-was apabila sampai terdengar sampai kaluar kamar. Dan untuk menutupi mulutnya yang suka berteriak itu, saya sesekali melumat bibirnya dengan ciuman dan tak lupa tangan saya mulai menelisuri seluruh permukaan memeknya. Seluruh telapak tangan saya sudah basah dan terasa licin.

Mbak Susi kemudian menarik tangan saya lalu menjilati tangan saya yang penuh dengan cairan bening dari memeknya. Tangan saya diperlakukan seperti permen dan Mbak Susi terus menjilati tangan saya sampai cairan itu habis. Badan Mbak Susi seperti menegang dan dengan satu teriakan kecil ia mengalami orgasme. Seperti biasa punggung saya tidak lepas dari cakarannya dan terasa sangat perih bercampur keringat.

"Ahh.. ehhmmeehh.. gue.. dapeet..", desahnya sambil merasakan cairannya keluar dari memeknya.

Saya mendiamkan badannya beberapa saat untuk memberi waktu padanya untuk merasakan kenikmatan yang ia peroleh. Setelah itu saya turun dan menciumi bagian perut hingga menuju selangkangannya. Saya sesekali menciumi bagian pahanya dan terlihat badan Mbak Susi sedikit begerak ke kanan dan kiri. Tangannya kemudian menjambak rambut saya dengan keras lalu kepala saya diarahkan ke bagian yang lebih nikmat, VAGINA.. Saya mulai menjilat seluruh permukaan memeknya, saya hisap-hisap itilnya dan mempermainkannya dengan lidah saya. Lubang memeknya juga saya jilat dan sesekali memasukkan lidah saya ke dalamnya.

"Uhh ennak.. ahh.. ahh.. hhaa.. aahh.. eehhee.. gi.. llaa.. auwww.. oohh..", seperti itu teriakannya.

Hal itu saya lakukan beberapa saat sampai ia puas.

"Say.. cepet masukin kontol lu.. cepet.. kayanya bentar lagi gue mati keenakan nih.. cepet yah..", katanya dengan sedikit gemas.

Sebenarnya saya tidak mau melakukannya, tetapi melihat wajahnya yang sudah tidak berdaya lalu saya menuruti permintaannya. Saya mengambil kondom yang ada pada dompet di celana saya, lalu memasangnya. Pada waktu akan saya pasang, Mbak Susi bangun dan mendekati saya.

"Sini.. gue yang pasangin..", katanya sambil mengambil kondom itu dari tangan saya.

Pada waktu akan dipasangkan, Mbak Susi mengulum dan menciumi kontol saya terlebih dahulu lalu memasangkan kondom itu ke kontol saya. Saya baru pertama kali merasakan teknik memasang kondom seperti itu, Nikmat Man..

Lalu saya rebahkan badannya dan saya naik ke atasnya. Saya dekatkan kontol saya ke memeknya. Saya gosok kontol saya ke permukaan memeknya agar kontol saya terkena cairannya agar licin. Setelah itu saya arahkan kontol saya ke lubangnya sambil kedua tangan saya melebarkan permukaan memek itu agar terbuka dan mudah masuk. Kontol saya masuk secara perlahan dan pada waktu kira-kira setengahnya, saya berhenti.

"Say.. kenapa.. cepet kontol kamu tancepin semua ke dalem memekku.. yang dalem.. terus entot yang kenceng banget yahh..", katanya.
Saya masukan lagi kontol saya sampai masuk semua, lalu saya berhenti lagi.
"Ehh.. iyahh.. cepet entot.. sampe mentok.. mmhhmm.. sampe.. en.. akk..", katanya.

Mendengar itu saya tertantang dan langsung mengentot kontol saya di dalam memeknya, saya melakukannya dengan cepat dan bertenaga.

"Auwww.. auwww.. oohh.. auwww.. sshhss.. mmhhmm.. auwww..", desahnya sambil berteriak. Mendengar itu saya berhenti.
"Ehh.. Mbak.. sakit ya.. kasar ya?", tanyaku karena mendengar teriakannya.
"Lu goblok.. kenapa.. berhenti.. tolol.. tadi enak banget.. udah cepet dorong lagi kontol lu ke memekku..", katanya agak kasar.

Mendengar kata kasarnya itu saya langsung memasukan kontol saya ke memeknya tetapi sekarang dengan kasar dan cepat.

"Ahh.. kasar.. amm.. at.. tapi.. enn.. akk.. ehhmm..", katanya merespon perlakuanku tadi.

Saya mendorong kontol saya keluar masuk tanpa henti dan dengan sedikit kasar. Tetapi yang saya heran Mbak Susi malah terus berteriak sambil sesekali tersenyum padaku.

"Gila nih tante-tante. Kaya gini doyan dikasarin, ketawa lagi doi.." Kataku dalam hati.

Setelah beberapa saat, kontol saya terasa seperti akan ada yang keluar dari dalamnya.

"Mbak.. saya bentar lagi mau keluar nih..", kataku.
"Sama.. eehh.. gue juga..", katanya.

Tiba-tiba Mbak Susi bangun dan badannya berputar membelakangi saya. Pantatnya menonggeng dan kepalanya direbahkan ke kasur. Rupanya ia menginginkan "Dog style".

"Gus sekarang buka kondom lu terus masukin kontol lu ke memek gue, gue mau lu keluarin di dalem memekku, gue mau rasain sperma lu di dalem memek.." Katanya.
"Mbak gak mau ah, entar jadi loh, kalo hamil gimana?", tanyaku.
"Gak koq, gue gak subur, tenang aja, gue udah pengalaman, gue bersih koq.. gak ada penyakitnya..", katanya meyakinkan saya.
"Gue rajin ke dokter..", tambahnya.

Mendengar itu saya lega dan mulai melepaskan kondom pada kontol saya. Saya langsung mengarahkan kontol saya ke memeknya dan langsung memasukkannya hingga amblas. Lalu mulai terasa lagi sepertinya saya akan mengakhiri permainan itu.

"Mbak saya.. eehh.. mau kaluar..", kataku sambil menahan rasa itu.
"Gue juga.. mmhhmm.. tembak.. ajahh.. yang.. dal.. dal.. emmhh..", katanya.

Gerakan saya semakin cepat dan akhirnya datang juga rasa yang saya tunggu-tunggu. Saya dorong kontol saya sedalam-dalamnya di memeknya. Kontol saya berdenyut-denyut dan langsung meledak dan menyemburkan sperma berkali-kali. Sperma saya langsung memenuhi seluruh rongga memeknya dan saya merasakan hal yang luar biasa nikmat. Kontol saya seperti ada yang menyiramnya dengan cairan hangat. Cairan kami berdua terasa menyatu dan memenuhi ruang memek Mbak Susi. Kami berdua mendesah dan berteriak puas pada saat itu. Setelah seluruh sperma saya keluarkan, langsung mencabut kontol saya dan berbaring di di sebelahnya. Tetapi badan Mbak Susi masih menungging.

"Mbak kenapa masih nungging?", tanyaku.
"Biar sperma kamu masuk lebih dalem, tuh lagi ngalir.. anget lagi..", katanya sambil tersenyum menggodaku.

Lalu badanya direbahkan di atas saya dan kami berciuman lagi beberapa saat merayakan kemenangan yang telah kami peroleh, kenikmatan..

Lalu kami berdua mandi dan tentu saja kami masih melakukan hal itu. Yang saya ingat di dalam kamar mandi, saya duduk di atas WC lalu Mbak Susi menduduki paha saya dengan posisi berhadapan dan tentu saja kontol saya tertancap sempurna di dalam memeknya. Pada waktu itu kami berdua merasakan kenikmatan seperti itu lagi.

Setelah itu kami pulang dan saya ingat Mbak Susi tidak mengenakan BH dan CD nya. Lalu saya diantarkan pulang ke Bogor dan Mbak Susi langsung pulang kembali ke Jakarta. Sebelumnya saya diberi sebuah amplop dan ia menyuruh saya membukanya apabila saya telah tiba di rumah. Saya diwanti-wanti olehnya suatu saat dia membutuhkan saya, maka dia akan menjemput saya seperti biasa si rumah Teh Endang. Hal ini telah diketahui oleh Teh Endang. Setelah saya buka amplop itu ternyata berisi satu lembar uang dollar dan nilainya adalah rahasia, maaf.

Setelah saya pikir-pikir, saya menjadi tergila-gila dengan wanita yang lebih tua dari saya, karena menurut saya mereka lebih mengerti arti kepuasan..

Nah, saya sudah menceritakan pengalaman saya yang lainnya. Sebenarnya pengalaman saya dengan Teh Endang, tidak lupa si Yuyun, apalagi Mbak Susi tidak sampai di situ saja. Lain kali saya akan ceritakan pengalaman saya yang lainnya, baik seputar mereka maupun dengan wanita lain yang tentunya berumur lebih tua dari saya.

Apabila ada saran, kritik pedas, atau ingin berkenalan dengan saya, bahkan banyak yang berkonsultasi pada saya seputar sex, bisa langsung menghibungi e-mail saya, dan saya akan membalas setiap respon anda sekalian. Kritik pedas akan saya terima dengan lapang dada (tidak dendam) dan sebelum-sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Salam "Save Sex"!

E N D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Bokep Viral Terbaru perkaos (2) PEMERSATUDOTFUN

perkaos (2)

Tidak ada voting
perkaos
perkaos (2)
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan VPN, matikan adblock, Akses website pemersatu.fun anti blokir ISP (tanpa VPN) dengan Cloudflare DNS (KLIK DI SINI)
untuk menonton konten perkaos yang ada pada kategori TEEN published pada 21 Desember 2022 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming perkaos (2) secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :


Cerita Dewasa:


The Owner 03


Sambungan dari bagian 02

Akan tetapi keesokan harinya dia kembali lagi.
"Mengapa kembali?" tanyaku.
"Saya bersedia pak," jawabnya.
"Dew, kamu tuh masih perawan. Masih banyak pekerjaan yang bisa kamu kerjakan dengan keakhlian yang kamu punya, jangan kerja di tempat ginian, sekarang kamu pulang saja yah!" kataku.

"Sebetulnya saya sudah bekerja Pak, di sebuah rumah makan, tetapi penghasilan saya tidak sesuai dengan kebutuhan saya," jawabnya.
"Ya semua manusia juga kebutuhannya pasti banyak Dew!" kataku.
"Iya sih Pak, sebab saat ini saya menjadi kepala keluarga, menggantikan Bapak saya yang terkena PHK, sementara untuk bekerja lagi tidak ada yang mau menerima pekerja dengan usia lanjut," katanya, sambil memandang wajahku dan tidak lama tertunduk lagi.

"Saya nggak kuat lagi dengan penderitaan ini, oleh sebab itu saya konsultasi dengan Mbak Sari dan diberikan alamat ini," jawabnya.
"Kamu nggak kawatir dengan keperawananmu?" tanyaku.
"Tidak!" jawabnya.





"Saya perlu uang," jawabnya memandangku dengan mata penuh air mata, tidak lama kemudian menunduk, dan menghapus air matanya.

"Uang buat apa?" tanyaku.
Dia menjelaskan bahwa dia rela berkorban seperti ini guna menyekolahkan adik-adiknya. Biarlah dia hancur, yang penting adik-adiknya sukses. Dia pun mengaku kepada keluarganya bahwa dia tetap bekerja di tempat yang lama, bukan di sini, kalau seandainya dia diterima di tempat ini.

Kadang bingung juga, katanya wajib belajar, sekolah gratis hingga SD, bebas uang sekolah. Kenyataannya memang bebas uang sekolah, tetapi iuran tetap saja ada. Yah, itulah hidup.

"Kamu yakin tetap ingin bekerja?" tanyaku.
"Yakin Pak," jawabnya sambil menghapus air matanya.
"Ok, Silahkan kamu datang besok, temui aku lagi, aku akan memikirkannya," kataku.
"Ingat, kamu belum aku terima! Aku masih perlu mengujimu." kataku lagi.

Keesokan harinya dia datang, nih anak nge-fans-berat sama Mickye Mouse kali ya, dari kemarin motif kaosnya ini saja, hanya warnanya yang berubah. Kali ini dia datang dengan keyakinan penuh dan tanpa rasa sedih, mungkin karena senangnya akan diterima di tempat ini. Seperti biasa, aku pun memintanya untuk telanjang. Dasar, celana dalamnya masih ada gambar Micky Mouse, sambil menggigit bibirku sendiri, jangan-jangan begitu melepas CD-nya ada tikusnya di dalam!

Setelah telanjang, nampak toketnya indah sekali, karena baru mulai merekah hingga daging toketnya yang mekar tadi belum sempat menutup warna daging hingga tampak bobanya yang merekah berwarna coklat muda terdapat warna PINK. Yang berbentuk bulan sabit menunjuk ke atas. Pinggang belum dobel, perut masih rata, kemaluannya ditumbuhi bulu halus yang cenderung berwarna coklat muda, tampak dari kejauhan garis kemaluannya tidak tertutupi bulu kemaluan yang masih tumbuh jarang, seperti rumput di padang yang gersang, gersang karena belum di-'sirami'.

Seperti biasa, kusuruh tidur di meja tamu dan mengangkangkan kakinya, kaki yang kiri ke sandaran tangan bagian kanan sofa kiri, dan kaki yang kanan ke sandaran tangan bagian kiri sofa kanan. Lebarnya bukaan paha hampir tidak sanggup membuka semua Labia Mayora-nya.

Setelah aku zoom, aku men-'save' bentuk selaput daranya, itu pun dengan meminta bantuanya untuk membuka Labia Mayora-nya agak lebar. Setelah itu kucoba mendekatinya, dan menghampiri lubang yang telah terbuka tadi. Kujilati ujung jarinya yang menahan Labia Mayora, dia merasakan rasa geli, akhirnya melepaskan Labia Mayora, hal yang sama kulakukan pada ujung jari satunya, hingga jarinya terlepas semua, nampak memeknya yang masih elastis, Labia Mayora segera menutup kembali lubangnya.

Itil masih sembunyi malu-malu menampakkan dirinya. Sengaja aku tidak segera ke tujuan, kujilati daging antara memek dan anus, prenerium (kalau tidak salah tulis). Berjalan menelusuri tanggul antara Labia Mayora dan lubang Memek. Dia mulai mendesah, Hhkhe. Kujilati klit-nya, rasa terkejutnya membuat kaki yang tertekuk di sandaran tangan menjadi tegak. Kucium klit-nya secara perlahan, kemudian diikuti dengan gerakan lidahku bermain di klit-nya, dia mendesah dan semakin kuat.

Setelah lama bermain dengan lidahku, aku melakukan hisapan ke klit-nya, kali ini dia tidak mendesah, tetapi agak terpekik, Akhhk. Kuulangi ciuman seperti di awal, kemudian jilatan lidah, dan terakhir hisapan di klit-nya. Hingga tampak meleleh cairan bening seperti getahnya lidah buaya, kuhirup cairan tadi. Saat kuhirup, kumisku yang seperti sikat kamar mandi karena kasar dan tumbuhnya tidak tentu arah, menyentuh klit-nya, dia secara tiba-tiba memegang kepalaku, menolak tekanan kepalaku untuk menghirup cairan lebih banyak lagi. Mungkin seperti tertusuk duri atau jarum, bila klit bertemu dengan kumis kasarku. Belum lagi jenggotku yang kasar menggelitik lubang anusnya, saat aku melakukan gerakan mengunyah Labia Mayoranya.

Akhirnya kulakukan gerakan cium-jilat-hisap pada Labia Mayora dan Minora, hingga dia berteriak kecil, karena tibanya puncak kenikmatan. Aku sendiri belum melakukan penetrasi, hanya me-masturbasi sendiri. Kemudian kuserahkan kemaluanku yang sudah keras padanya. Aku sengaja memberikan padanya, ingin tahu improvisasinya.

Setelah digenggam, dia mengurut dengan tangan kanan, sambil memandang kemaluanku. Mungkin dalam benaknya, apakah masuk barang sebesar ini. Lumayan juga cara dia memijat kemaluanku. Akhirnya dia mencoba mencium dengan hidungnya, bau apa tidak? Kemudian dia mengecup kepala kemaluanku, dan mencoba memasukkan ke dalam mulut. Pertama hanya bagian kepala, lama kelamaan masuk juga sebagian, semakin lama tidak hanya kecupan, hisapan dan keluar masuk saja, tetapi sudah dikombinasi dengan jilatan lidahnya pada ujung lubang kemaluan saat kemaluanku hanya masuk bagian kepalanya saja, dan akhirnya ejakulasi di dalam mulutnya. Ahh, nikmatnya.

Setelah bersih-bersih, aku memutuskan menerimanya sebagai penerima tamu plus, artinya kerja sebagai penerima tamu tetapi sewaktu-waktu siap menerima pekerjaan khusus seperti tadi tetapi khusus untuk diriku sendiri. Akhirnya aku juga yang memerawaninnya, setelah dia meminta, karena tidak tahan dengan gejolak yang timbul akibat perbuatanku padanya.

*** Perluasan Usaha ***

Nampak usahaku semakin lama semakin maju, mau ekspansi ke kiri dan ke kanan, tidak mungkin, ruko tetangga tersebut juga punya prospek yang bagus. Mau buka cabang, repot ngurusnya, kalau harus mondar-mandir. Aku memang hanya ingin punya satu tempat dan tidak ingin mempunyai cabang. Setelah konsultasi dengan yang ahli, diputuskan untuk menambah lantai menjadi 6 lantai, jadi aku mendapat tambahan 2 lantai. Untuk satu lantai luasnya 225 meter persegi, dengan tambahan 2 lantai berarti aku mendapat tambahan 450 meter persegi, sehingga total luas papitra menjadi 1.350 meter persegi, atau mendapat tambahan 40 kamar, sehingga total ada 100 kamar, dengan jumlah pemijat mencapai 150 orang. Jumlah yang fantastis bukan.

Pernah usahaku agak suram dengan tingkat pendapatan hanya 30%. Aku mencoba memasukkan iklan di koran, kok hasilnya tidak memuaskan. Akhirnya aku mencoba memasarkan ke sebuah forum khusus hidung belang, hasilnya lumayan untuk mendongrak tingkat 'hunian' kamar. Di samping itu aku juga mencoba membuat cerita-cerita mengenai kisah kasih di ruang papitra pada suatu milis dan website yang sama, hasilnya luar biasa. Tingkat hunian menjadi pada tingkat yang sangat menguntungkan.

Sebagai gambaran untuk tingkat hunian 50% saja, dengan jumlah kamar 100 dan jumlah pekerja 150 dengan rata-rata mendapat 3 tamu, serta tamu mengeluarkan biaya 100.000 rupiah untuk satu setengah jam (kunaikkan dari 75.000 rupiah menjadi 100.000 rupiah, penghasilan pemijat juga naik dari 10.000 rupiah menjadi 15.000 rupiah), maka pendapatan yang diraih sebesar 573.750.000 rupiah sudah dipotong biaya untuk pemijat. Bisnis yang menguntungkan bukan, mungkin lebih mirip dengan 'pohon uang' yang dipanen setiap hari.

*** Pengunduran diri ***

Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Pak Wirokusumo mengundurkan diri dari kepemilikan dan meminta seluruh modal yang ada di papitra. Adalah mudah untuk membayarkan seluruh uang modalnya mengingat 'pohon uang'-ku panen setiap hari. Akan tetapi berkat modal awal yang dia berikan saat pertama dulu itu tidak dapat dihitung nilainya dengan uang, yakni kepercayaannya pada diriku.

Dia mengundurkan diri dengan alasan yang tidak kuketahui. Berbagai macam bujuk rayuku tidak mempan menghalanginya. Dengan berat hati terpaksa kami berpisah, setelah aku memberikan modal dan sedikit tambahan uang 'tali kasih'. Aku sendiri saat ini tidak tahu di mana keberadaannya, banyak orang mencarinya. Di dalam negeri atau di luar negeri, atau masih di dalam kota atau di luar kota, atau jangan-jangan telah mati.., hanya yang Kuasa yang tahu.

Beberapa rekan yang sakit hati padanya mengatakan kalau dia telah mati. (Biasanya umurnya akan semakin panjang bila orang di sumpahin mati - kata orang lho!) Aku kehilangan sahabatku. Semoga sukses selalu Pak Wirokusumo.

*** Hadiah ***

Belum lama Pak Wirokusumo mengundurkan diri dan menghilang, kali ini Pak Raymond pun ikut-ikutan, bedanya dia mengatakan alasannya padaku.
"Bud, aku malu pada diriku sendiri, dan sudah jenuh dengan hal seperti ini, aku berikan semua modalku padamu, aku sudah tua, semua itu tak akan aku bawa mati. Selain itu keluarga juga nggak tahu kalau aku bisnis seperti ini bersamamu," katanya.

Aku pikir apakah aku kurang memberikan bagi-hasil dari usaha ini. Padahal Pak Raymond lebih brengsek kelakuannya ketimbang Pak Wirokusumo, tetapi tidak tahu mengapa kok dia bisa mendapat 'petunjuk' melakukan hal seperti itu.

Semestinya aku merasa senang dengan hal ini, karena hanya diriku saja pemilik papitra ini, tetapi justru sebaliknya yang kurasakan, tidak ada rekan lagi tempatku berkeluh kesah dan berdiskusi mengenai usahaku ini. Aku kehilangan rekan lagi.

*** Pembubaran ***

Suatu siang menjelang sore hari aku mendapat laporan dari Dewi (masih ingat khan? Siapa dia?) kalau anakku yang sulung tadi cico (masih inget khan istilah ini, kalau tidak, baca lagi dari atas, dan jangan buru-buru!). Segera kubuka rekaman pada hari dan jam yang dimaksud, setelah kulihat, benar! Dia bersama Sari (bukan Sari yang ke Jepang, tetapi Sari yang lain). Bagai disambar petir aku melihat rekaman itu, segera kumatikan.

'Kacang ora ninggal lanjaran.'
'Like Father Like Son.'
'Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.'
Sudah lama sebetulnya aku mencium hal ini, dan banyak keluarga yang mencemooh usahaku, tetapi aku tidak mendengarnya. Bahkan salah satunya mengatakan, "Kalau nanti keturunanmu sendiri yang menggunakan usaha ini kamu baru tahu. Satu sisi kamu melarangnya tetapi di sisi lain kamu sendiri makan dari usahamu."

Semakin pusing aku memikirkan, akhirnya aku memutuskan untuk menutup tempat ini, detik ini juga.

"Dew, tolong pasang papan 'tutup' di pintu depan!" kataku.
"Kenapa Pak?" tanyanya.
"Kalau ada tamu yang menunggu di ruang tunggu tolong diberitahu kalau tempat ini akan ditutup, sementara yang sudah masuk tunggu sampai keluar."
"Iya Pak." jawabnya.

Kemudian setelah tamu sudah keluar semua, kukumpulkan semua karyawan, dan memberi tahu bahwa tempat ini akan kututup. Semua uang hasil pendapatan hari ini dibagikan secara merata, kuanggap sebagai pesangon, jumlahnya hampir mendekati satu milyar! Begitu juga dengan aset yang ada di gedung ini, kuminta untuk dibagi secara merata kecuali ruang kerjaku, dan jangan berebutan. Selanjutnya aku pergi meninggalkan papitra.

Keesokan harinya aku datang lagi ke papitra, tampak ruang-ruang sudah kosong, hampir semua barang sudah tidak ada, mulai dari AC indoor hingga outdoor sampai lampu dinding saja hilang. Aku mengambil semua kaset hasil rekaman untuk kubakar, begitu juga CD hasil backup kupatah-patahkan. Aku mendengar bahwa banyak karyawanku yang kaget, bagaimana tidak, ada yang baru mulai mencicil rumah BTN. Ada yang baru menikah, apalagi dengan kondisi perekonomian seperti ini, yah aku berharap pesangon yang lumayan tadi dapat membawa mereka bertahan.
Bahkan ada yang dengan kesal mengatakan bahwa, "Sudah bau tanah baru insaf, kemarin kemana aja!"

Beberapa minggu kemudian ada yang menawar papitra-ku. Kupikir sejenak untuk menjualnya, kuputuskan untuk tidak menjual. Aku baru ingat kalau masih ada uang di rekening atas nama, segera kuambil semua, dan membawa surat kempemilikan ruko menuju ke perusahaan yang mengelola kawasan ruko tadi. Kuberikan uang dan surat tadi secara hibah dan meminta untuk tidak diperjual belikan, dan memintanya untuk membuatkan tempat ibadah, karena belum lama ini tempat ibadah yang terdekat dari situ digusur untuk pembangunan apartemen tingkat international dan lapangan golf mini.

Oh, Jakarta, kuburan untuk orang mati saja digusur untuk pembangunan Mall. Apalagi sarana ibadah untuk orang yang masih hidup. Aku pernah memperhatikan ratusan orang di kawasan ruko itu kesulitan bila melakukan ibadahnya di hari Jum'at, hingga masing-masing melakukannya di selembar koran di tengah jalan raya yang ditutup dua jalur, yang kadang tertiup angin sebelum mereka sujud, yang terkadang basah oleh hujan, guna menunaikan kewajiban.

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ya Tuhan aku tidak pantas masuk ke surgamu, tetapi aku tidak kuat menahan siksamu di neraka.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Bokep Pemersatu Bangsa :
BOKEP LUCAH PEMERSATU.FUN | BOKEP INDO | VIDEO PEMERSATU ORG | MANGA PEMERSATU ORG | HIJAB PEMERSATU TOP | MANGA PEMERSATU TOP | DOOD PEMERSATUFUN SITE | VIDEO PEMERSATUDOTFUN COM | BOKEP PEMERSATUFUN COM | PEMERSATUFUN COM
Tips agar bisa menonton : Download VPN Free Tercepat | Download Google Chrome | atau Matikan adblock jika menggunakan uc mini, opera, dan lainnya