kamu melihat pesan ini karena adblocking menyala sehingga keseluruhan koleksi kami sembunyikan. kamu berusaha menghilangkan iklan maka kami juga akan menutup seluruh koleksi
klik cara mematikan ADBLOCK
selalu guna GOOGLE CHROME serta Download free VPN tercepat
UC Browser, Operamini, dan browser selain google chrome yang tidak mematikan ad blocking menggunakan panduan di atas tidak akan dapat melihat content, harap maklum
Bokep Viral Terbaru perkaos 2 PEMERSATUDOTFUN

perkaos 2

Tidak ada voting
perkaos
perkaos 2
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan VPN, matikan adblock, Akses website pemersatu.fun anti blokir ISP (tanpa VPN) dengan Cloudflare DNS (KLIK DI SINI)
untuk menonton konten perkaos yang ada pada kategori TEEN published pada 27 Desember 2022 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming perkaos 2 secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :


Cerita Dewasa:


Di Bawah Bayang-bayang Dewi Fortuna 02


Sambungan dari bagian 01

Beberapa menit kemudian, Ibu Sari melenguh keras, "Aahh.." Rupanya dia mengalami orgasme, berbarengan dengan kontolku memuntahkan air "lahar" masuk ke dalam memek Ibu Sari. Akhirnya dengan tubuh bermandikan keringat yang mengalir deras, terus kami membersihkan badan. Aku cepat-cepat keluar dari WC itu setelah aku memakai pakaianku, setelah itu menyusul Ibu Sari.

"Ibu, nanti nggak usah naik angkot. Kita naik mobil saya aja. Nanti ibu saya antar pulang..?"
"Lho.. kamu tadi kan berangkatnya naik angkot, kok sekarang naik mobil?"
"Tadi pagi mobil saya masuk bengkel, terus tadi saya sudah pesan sama montirnya kalau sudah selesai, saya suruh antar ke sini dan kuncinya dititipkan ke satpam. Ibu, tunggu sebentar di sini saya akan ambil mobil dulu.."
"Jangan lama-lama ya Son, nanti kulit Ibu yang putih dan mulus ini terbakar kena panas matahari."
"Sebentar kok Bu, I Swear, ok.."

Lalu, aku bergegas ke tempat parkir. Setelah itu kuantar Ibu Sari. Sesampai di rumahnya.
"Udah ya Son.. Ibu masuk dulu. Kapan-kapan kamu harus mampir dan wajib menginap di sini, soalnya Ibu sendirian sih. Nanti ada perampok terus Ibu diperkosa gimana, dan kalau Ibu kedinginan di waktu malam siapa dong bisa menghangatkan tubuh Ibu.. nggak ada kan.. jadi kapan pun kamu mau, kamu boleh tinggal di sini. Udah ya, cuupp.." katanya sambil ngecup bibirku.
"Tentu Bu, Sony kapan-kapan akan ke sini dan Ibu tidak perlu takut akan hal-hal tadi, ok.."






Setelah dia turun, aku langsung tancap gas. Waktu dalam perjalanan, aku teringat cewek yang menabrakku tadi pagi, terus kupikir bagaimana kalau aku menemuinya. Tapi dimana ya kantornya..? Terus aku ingat dengan kartu namanya, di situ tertulis namanya Dini dan alamat kantornya. Langsung aku menuju ke kantor yang tertera di kartu nama itu. Sesampainya di situ aku memarkir mobilku, dari jauh kulihat mobilnya yang menabrak mobilku tadi. Aku masuk dan menanyakan apa dia ada di tempat atau tidak. Resepsionis mengatakan bahwa dia masih berada di kantin kantor. Lalu kulihat jam tanganku, dan benar juga ini waktunya makan siang. Aku menuju ke kantin yang berada di sebelah kantor itu. Aku melihat sekeliling dan kulihat dia sedang makan dengan lahapnya. Kuhampiri dia, pada saat dia mengangkat wajahnya, dia kaget melihat kedatanganku.

"Halloo.. Mbak yang cantik dan baik hati gimana kabarnya siang ini. Tentu baik saja bukan, nah sekarang bolehkah saya yang hina ini duduk menemani Mbak makan." kataku lancang.
"Ehhmm.. kalau saya tidak salah lihat Mas ini yang tadi pagi mobilnya saya tabrak ya kan?"
"Ya.. itu betul sekali. Dan kalau Mbak bersedia, saya juga mau lho ditabrak sama Mbak.. becanda lho Mbak."

Dia kaget hingga tersendak..
"Akhh.. Mas ini bisa aja. Oh ya Mas, bagaimana mobilnya apa sudah beres?"
"Bagaimana tidak beres, lha yang ngurus aja ceweknya cantik, baik dan 'big boss' lagi."

Dia ketawa mendengar ucapanku.
"Mas ini orangnya lucu juga ya.."
"Tergantung situasinya Mbak, kalau situasinya mengharuskan saya melucu ya saya akan jadi lucu seperti anak kecil. Tapi kalau saya lagi serius, Mbak pasti takut dengan saya.. bener lho Mbak.. Oh ya, kita kan masih belum tahu nama kita masing-masing, saya Sony.."
"Saya Dini Mas.. Saya boleh nggak panggil Sony saja..?"
"Tentu boleh Mbak, soalnya saya menduga Mbak pasti lebih tua dari saya."
"Saya lebih tua dari Mas, akh masa sih. Emangnya Mas Sony umurnya berapa sih..?"
"Umur saya 22 tahun 11 bulan 11 hari 12 jam 30 menit 10 detik.. Begicu Mbak.."
"Oh my god.. jadi Sony masih kuliah atau.."
"Ya Mbak saya memang masih kuliah. Mbak sendiri umurnya berapa?"
"Umurku sekarang, akh.. jangan dech.. kamu nanti kaget lho.."
"Nggak pa-pa Mbak, saya ini orangnya sabar kok.. jadi nggak mungkin saya menghina Mbak berapapun usia Mbak.."

"Eee.. Umurku sekarang 7 tahun lebih tua dari kamu..?"
"Jadi sekarang usia Mbak sudah menginjak kepala tiga.. Ohh..?"
"Kenapa emangnya Son, kamu kecewa ya, soalnya usia Mbak sudah tua..?"
"Nggak Mbak, bukan begitu maksud saya. Saya merasa nggak percaya bila Mbak usianya sudah kepala tiga."
"Lho, emangnya kenapa Son denganku.. aku jadi nggak ngerti?"
"Kalau boleh saya tanya, apa Mbak sekarang sudah menikah.. gicu ganti.. roger.?"
"Haa.. haa.. haa.. pertanyaan kamu kok menjurus kesitu sih, tapi nggak apa-apa lah.. Saya sampai sekarang memang belum menikah.."
"Ohh.. Jadi Mbak masih 'perawan' oh my god.."
"Son, kamu nakal dech.. emangnya kalau saya masih 'perawan' mau kamu apakan aku..?"
"Akhh.. cuman becanda kok Mbak. Kenapa Mbak sampai sekarang belum menikah.. kan Mbak sudah punya segalanya.. uang ada, rumah besar, mobil Mercy, dan yang paling penting Mbak itu orangnya cantik, bodynya semok dan mulus.. maaf lho Mbak..?"

"Kamu mirip wartawan aja Son. Saya belum menikah dikarenakan ya memang jodoh saya belum datang.. that's all."
"Kalau misalnya saya ingin jadi 'pasangan' Mbak gimana, setuju nggak..?"
"Aduhh.. kamu lancang sekali ya. Udah akhh.. kamu jangan becanda terus."
"Kalau misalnya Mbak suka sama saya 'luar dalam', saya serius dengan ucapan saya tadi lho.."
"Memangnya kamu belum punya pacar?"
"Saya memang sudah punya pacar Mbak. Tapi kan seperti kata pepatah, Sebelum janur kuning melengkung, itu berarti masih ada kesempatan.. ya kan Mbak?"
"Ya itu wajar saja. Tapi apa yang membuat kamu suka sama saya, padahal pacar kamu itu kan masih muda. Ya meskipun aku dan pacar kamu itu statusnya masih 'perawan' tapi tentu punya pacar kamu jauh lebih enak dari punyaku.. ya kan?"

"Ohh. jadi benar Mbak masih perawan. ohh.. betapa bahagianya diriku. ohh.. uppss.. ee.. begini Mbak saya suka sama Mbak bukan hanya dari segi sex aja, tapi terus terang Mbak itu orangnya kalem, baik, bertanggung jawab dan romantis. Wuih selangit dech.."
"Sony, kamu memang hebat sekali, aku sangat 'tersanjung' dengan pujianmu dan aku jadi 'terpikat' dengan kamu. Sebetulnya pada waktu bertemu di perempatan jalan tadi pagi itu. Aku memang tertarik dengan kamu Son.."
"Jadi gimana Mbak, lamaran saya diterima atau Mbak tolak."
"Terus bagaimana nanti dengan pacar kamu?"
"Aduh.. gimana ya Mbak, saya jadi bingung nich?"
"Begini aja Son, dia jangan kamu putusin, ya.."
"Lho, terus bagaimana dengan hubungan kita Mbak..?"
"Hubungan kita masih terus berlanjut. Eee.. begini maksudku, kamu bilang sama dia kalau dia harus mau jadi 'isteri ke-2' setelah aku. Aku nggak mau dia kecewa karena kamu putusin.."
"Jadi maksud Mbak, saya harus kawin dengan kalian berdua?" kataku jadi pusing 1001 keliling.
"Emangnya kenapa, bukankah nanti kamu kan senang punya isteri 2, sama-sama perawan lagi.. gimana Son?"
"Tapi apa saya sanggup punya isteri 2?"
"Saya yakin kamu pasti sanggup melakukan kewajibanmu. Untuk membuktikan kata-kataku kamu sekarang ikut aku ke ruanganku.. ayo Son.." katanya sambil menarik tanganku.

Setelah aku berada di ruangannya, dia memberi pesan pada sekretarisnya kalau dia dalam 1 jam ini jangan diganggu. Setelah itu, dia langsung mencium bibirku, aku membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Setelah kira-kira 5 menit bercumbu, mulai tanganku meraba dan meremas dadanya yang montok. Dia pasrah dengan apa sedang kulakukan padanya, karena mungkin dia belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Tanganku masuk ke dalam bajunya dan mulai memainkan puting toketnya, lalu aku mulai menyingkapkan baju dan melepaskan roknya hingga dia tinggal mengenakan BH dan CD saja. Lalu dia membantuku membuka baju dan celanaku, sehingga aku hanya mengenakan CD saja. Tampak jelas kontolku sudah tegang di balik CD-ku. Aku memegang tangannya dan menuntun tangannya ke dalam CD-ku. Setelah itu dia mulai membuka CD-ku, tampak jelas kontolku yang sudah membesar dan menegang. Mungkin karena dia baru sekali itu melihat kemaluan cowok secara langsung dia kaget tapi juga geli melihat kontolku. Dia terpana melihat kontolku, lalu aku mulai melepas BH dan CD-nya.

Setelah itu badanku mulai menindih badannya di atas meja kerjanya dan aku mulai menjilati puting toketnya sampai dia menggeliat keenakan, aku melihat memeknya sudah basah kuyup, aku telah membuatnya benar-benar terangsang. Lalu tanganku mulai meraba bibir memeknya dan mulai memainkan itilnya. Aku membuatnya benar-benar terangsang dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama aku memainkan tanganku di memeknya, lalu aku mulai menjilati bibir bagian bawah memeknya dengan nafsuku yang memburu, tangan kananku masih memainkan itilnya.

Kira-kira 5 menit kemudian, aku melihat badannya meregang dan aku merasakan cairan hangatnya mengalir dari liang memeknya itu, aku tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya sampai hanya air liurku membasahi memeknya itu. Badannya terasa lemas sekali lalu aku duduk di atas pinggir meja dan memandangi wajahnya yang sudah basah bermandikan keringat.

Aku berkata padanya sambil tersenyum, "Bagaimana Mbak enak nggak?"
"Aduhh.. Son kamu sungguh hebat.. ohh.. kamu membuatku melayang sampai ke langit.. ohh.."
Lalu, dia jongkok di hadapanku dan mulai mengelus-ngelus kontolku, sambil sesekali menjilati dan menciumi kontolku yang semakin menegang. Aku jadi terangsang, aku meregangkan badan ke belakang sambil mengeluarkan suara-suara kenikmatan. Lalu tak berapa lama kemudian dia memegang pangkal kontolku dan mulai mengarahkannya masuk ke dalam mulutnya, aku merasakan ujung kontolku itu menyentuh dinding tenggorokannya ketika hampir semua bagian batang kontolku masuk ke dalam mulutnya, terus dia mulai memainkan kontolku di dalam mulutnya, terasa benar kontolku mulai mengeluarkan cairan basah tanda kalau aku sudah benar-benar terangsang padanya. Badanku sudah basah dengan keringat itu mulai bergoyang-goyang keras sambil ia berkata, "Aaarghh.. aku udah nggak tahan lagi nih Mbak.. aku mau keluarr.." Dia tidak mendengarkan omonganku, ia masih saja terus memainkan kontolku, sampai cairanku yang hangat kental putih dan asin muncrat dari lubang kontolku, dia langsung mengeluarkan kontolku itu dan seperti kesetanan dia malah menelan cairan spermaku terus menghisap kontolku sampai cairan spermaku benar-benar habis. Dia lalu duduk sebentar di kursi, dan memperhatikan aku yang tiduran di meja kerjanya sambil mencoba memelankan irama nafasku yang terengah-engah itu.

Dia hanya tersenyum padaku, lalu aku bangun dan menghampirinya, aku tersenyum padanya. Cukup lama kami berpandangan dengan keadaan bugil dan basah berkeringat. "Mbak sungguh cantik dan baik banget pada Sony." kataku tiba-tiba. Dia hanya tertawa kecil dan mulai mencium bibirku. Aku membalas dengan nafsu sambil memasukkan tanganku ke dalam lubang memeknya, cukup lama kami bercumbu lalu..

"Mbak.. boleh nggak Sony ehmm.. itu.. tu.. itu.."
"Itu apa Son?" tanyanya.
"Itu.. masa Mbak nggak tau sih?" balasku lagi.
Sebelum dia menjawab, aku merasakan kepala batang kontolku sudah menyentuh bibir memeknya. Lalu.. "Crestt.. creest.." terasa ada yang terobek dalam memeknya dan sedikit darah keluar kemudian aku berkata, "Mbak benar-benar masih perawan!" Dia hanya bisa tersenyum dan mungkin merasakan sedikit perih di memeknya yang terasa agak serat waktu setengah kontolku masuk ke memeknya. Kugerak-gerakan perlahan batang kontolku yang besar tapi setelah agak lama entah mengapa dia lalu tertawa kecil, mungkin merasakan geli, enak dan nikmat ketika aku mulai menggoyangkan badanku maju mundur pelan dan sepertinya dia tak tahan lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian semakin cepat saja aku memainkan jurus 'Terjangan Dewa Cinta'-nya yang maju mundur, sesekali menggoyangkan pinggulku kekiri kekanan dan kupuntir-puntir putingnya yang berwarna pink. Aku membuatnya menggelepar-gelepar seperti ayam baru disembelih. Keringat sudah membasahi badan kita berdua, kusadari kalau saat itu tindakan kita berdua bisa saja dipergoki orang tapi kurasa kemungkinannya kecil karena dia tadi sudah berpesan kepada sekretarisnya kalau dalam 1 jam ini jangan diganggu.

"Ahh.. ahh.. ahh.." dia mendesah dengan suara kecil karena takut kedengarann orang lain. Cukup lama juga aku bermain dengannya sungguh luar biasa kekuatan Mbak Dini, biasanya aku hanya membutuhkan waktu sebentar untuk meng-KO cewek. "Ahh.. awww.. awww.." dia kegelian dalam lubang memeknya dan kemudian tak tertahankan, tiba-tiba kurasakan sesuatu. Ya.. cairan hangat kurasakan muncrat dari dalam memeknya dan membasahi kontolku yang terus keluar masuk sarangnya. Badannya menggeliat dan mengejang. Kututup mulutnya, karena aku takut kalau dia mendesah terlalu keras. Meja kerjanya itu bergoyang-goyang karena ulah kita berdua. Aku berusaha untuk mencapai puncak organsmeku, lalu aku duduk di kursi kerjanya dan menyuruhnya untuk duduk di kontolku. Dia menurut saja dan pelan-pelan dia menurunkan badannya terus duduk di kontolku. Aku memegang pinggulnya dan menaik-turunkan badannya yang basah. Dia mendesah-desah dan aku semakin semangat menaik-turunkan dirinya. Lalu badanku mengejang dan berkata, "Mbak aku mau keluarr.." dia malah memacu gerakan tubuhnya naik turun agar aku bisa juga mencapai klimaksnya. Tapi lama aku mengeluarkan kontolku dari memeknya dan aku mendesah panjang, "Ahh.. Mbak.. aku keluar.. ohh.." Air maniku kececeran di lantai dan sebagian ada yang ke meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Aku berkata, "Mbak nggak nyesel bukan.?" Dia menggeleng sambil berkata, "Nggak kok Son. Aku rela kok.. kan nanti kita akan menikah.. ya kan sayang.." katanya sambil mengecup bibirku lalu memeluk tubuhku. Lalu tanpa terasa kami tertidur, karena kenikmatan yang telah kita ciptakan sendiri.

TAMAT

[super-related-posts related_post="1"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Bokep Viral Terbaru perkaos (2) PEMERSATUDOTFUN

perkaos (2)

Tidak ada voting
perkaos
perkaos (2)
video tak dapat diputar? gunakan google chrome, matikan VPN, matikan adblock, Akses website pemersatu.fun anti blokir ISP (tanpa VPN) dengan Cloudflare DNS (KLIK DI SINI)
untuk menonton konten perkaos yang ada pada kategori TEEN published pada 21 Desember 2022 sila click button Download lalu click STREAMING di atas untuk menyaksikan streaming perkaos (2) secara free, dapat pula click STREAMING 1 etc button di bawah player. jangan lupa di fullscreen agar iklannya tidak muncul, jika keluar jendela iklan cukup tutup sahaja
Advertisement
klik foto untuk besarkan saiz dan semak halaman seterusnya

Daftar Foto :


Cerita Dewasa:


Skandal di Kantor - 2


Dari Bagian 1


Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir satu bulan sejak kejadian waktu aku hampir saja mengkhianati suamiku dengan kejadian di ruangan kantorku. Aku pun sudah mulai dapat melupakan kejadian itu soalnya selama ini aku juga hampir tidak pernah melihat Parjo. Aku pun tidak berusaha ingin mengetahui keberadaannya.

Kira-kira satu minggu menjelang bulan puasa kegiatanku semakin bertambah sibuk. Aku harus banyak mempersiapkan kegiatan promosi menjelang penjualan untuk hari raya lebaran nanti. Untuk itu aku banyak melakukan lembur seperti biasanya.

Aku masih ingat saat itu hari Kamis tanggal 7 Oktober, aku seperti biasanya lembur di kantor. Saat itu yang ada di kantor hanyalah aku dan Ida yang juga sedang lembur menyelesaikan tugasnya. Kira-kira pukul 18.00, Ida mendatangi ruanganku dan mengajakku pulang bersama-sama, namun aku yang masih harus menyelesaikan beberapa laporan memintanya untuk pulang duluan, sehingga praktis di kantor hanya tinggal aku sendirian. Aku tidak takut karena sudah terbiasa, lagi pula ada security yang selalu berjaga-jaga di lobby bawah di lantai satu.

Entah karena ruangan AC yang dingin atau mungkin karena sejak sore tadi aku belum ke rest room maka aku merasa ingin sekali buang air kecil. Karena desakan itu aku pun meninggalkan ruanganku dan pergi ke rest room yang letaknya di luar ruangan kantor namun masih satu lantai dengan kantorku. Karena aku yakin sudah tidak ada orang lain, maka aku melepas CD-ku dan memasukannya ke tasku sebelum ke rest room. Hal ini kulakukan agar mudah melepas hajatku nanti. Praktis saat itu aku tanpa mengenakan CD saat pergi ke rest room. Toh rok pendekku cukup tebal, jadi kalau pun masih ada orang tidak bakalan ketahuan, pikirku.

Keadaan memang sepi di kantor. Saat aku melewati koridor di samping kantorku pun tidak tampak ada satu orang pun di sana. Aku lalu masuk ke rest room dan menutup pintu kemudian langsung menghambur masuk ke salah satu toilet yang berjajar di sana. Aku merasa lega sekali setelah hajatku yang sedari tadi merongrongku terlepas sudah. Kini aku bisa kembali bekerja dengan tenang.

Saat itu aku sedang merapikan pakaianku di depan cermin di ruangan rest room. Aku terkejut setengah mati saat aku tersadar bahwa ternyata di rest room sudah ada orang lain selain diriku. Yang lebih mengejutkan ternyata orang itu adalah Parjo yang sedari tadi memperhatikan diriku saat mematut diriku di depan cermin.






Belum sempat hilang rasa terkejutku, Parjo sudah mendatangi dan langsung memeluk tubuhku. Aku yang termasuk sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita ternyata masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan Parjo. Mungkin tingginya sekitar 175-an lebih karena ternyata tinggi tubuhku hanya sebatas hidungnya saja. Selain tinggi, tubuh Parjo sangat kekar dan tegap hingga aku tak mampu bergerak saat kedua tangannya yang kokoh menyergapku.

Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang kokoh. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya, bibir Parjo yang tebal mulai menyentuh bibirku. Lidahnya mulai menerobos bibirku dan mencari-cari lidahku. Napasnya mendengus-dengus menggebu-gebu. Aku tidak mampu menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu kokoh.

"Hmmngghh.. Ughh..", saat lidah Parjo dapat menemukan lidahku, ia mulai mengerang dengan suara yang benar-benar maskulin. Aku yang tadinya berusaha meronta-ronta, mulai berdesir darahku mendengar erangan maskulinnya itu.

Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik tubuhku hingga tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat ketat. Aku dapat merasakan ada benda yang mengganjal di perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo yang mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai meremas buah pantatku dari luar rok ketatku sedangkan tangan satunya sangat ketat mendekap punggungku.

Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar di dalam mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan tangannya yang tadinya meremas-remas buah pantatku mulai menyingkap rokku ke atas. Rokku ditariknya ke atas hingga pantatku yang tidak tertutup CD segera tersentuh langsung oleh telapak tangannya yang kasar. Aku menggerinjal karena tangannya yang kasar terasa geli di pantatku yang halus.

"Hhsshh.. Oughh.." tanpa sadar aku sedikit melenguh karena tangan kasar Parjo meremas buah pantatku yang terbuka dengan gemasnya. Napasku mulai memburu dan gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo yang menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.

"Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. Sshh" antara sadar dan tidak aku masih sempat meronta dan mulutku masih mencoba mencegah perbuatan Parjo lebih jauh. Namun seolah tak peduli dengan desisanku atau mungkin karena penolakanku tidak begitu sungguh-sungguh, Parjo tetap saja merangsekku dengan serbuan-serbuan erotisnya.

Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun ke daguku. Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini, apalagi tangan Parjo yang tadinya meremas-remasa pantatku kini bergeser ke depan dan mulai mengelus-elus daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal Parjo yang sudah mulai merambah daerah selangkanganku.

"Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh.." aku semakin mendesis antara menolak dan tidak.

Tangan Parjo yang nakal semakin liar mengaduk-aduk daerah sensitifku. Mulutnya kian gencar menyedot-nyedot leherku. Seolah tak peduli dengan rengekanku, Parjo terus saja bergerak. Kini tangannya bahkan mulai meremas-remas labia mayoraku yang sudah mulai basah berlendir.

Tubuhku tersentak saat jari tangan Parjo mulai menyusup ke dalam labia mayoraku dan mulai mengorek-korek tonjolan kelentitku. Digerakannya jarinya berputar-putar menggesek kelentitku. Kakiku seolah sudah tak bertenaga hingga tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di pelukan Parjo. Sambil terus memutar-mutar jarinya di tonjolan kelentitku, Parjo mulai mendorong tubuhku dan diangkat untuk didudukkan di atas toilet rest room yang dingin itu. Aku yang sudah mulai pasrah hanya diam saja atas perlakuannya.

Parjo lalu melepaskan jarinya dari selangkanganku dan ia mulai berjongkok di hadapanku. Wajahnya berada dekat sekali dengan selangkanganku yang terbuka lebar.

"Aw.. Ohh.." tubuhku kembali tersentak saat tiba-tiba Parjo menyurukkan wajahnya ke selangkanganku dan mulutnya menyedot-nyedot bibir kemaluanku.

Lidahnya yang panas menerobos masuk di antara labia mayoraku dan mengais-ngais daging hangat lubang memekku. Tanpa sadar aku meremas rambut Parjo yang jabrik itu. Tanpa bicara, Parjo terus bekerja! Ya sedikit bicara banyak bekerja!! Ini benar-benar tepat untuk keadaan Parjo saat itu. Lidahnya kini mulai mempermainkan kelentitku yang sudah semakin mengembang. Perutku mulai kejang karena menahan kenikmatan yang hampir meledak.

"Shh.. Ouhh.. Shh.. Ter.. Rushh Jo.." bibirku tak henti-hentinya berdecap menahan kenikmatan yang mulai naik ke ubun-ubunku.

Aku yang tadinya berkata jangan, sekarang meminta Parjo untuk terus! Tanganku tanpa sadar merengkuh kepala Parjo agar semakin ketat menempel ke selangkanganku. Rupanya Parjo tahu kalau aku sudah hampir mencapai orgasme. Lidahnya semakin gila mempermainkan kelentitku. Bibirnya menyedot seluruh cairan yang semakin membuat memekku basah. Aku hampir saja mencapai klimaks saat tiba-tiba Parjo menarik kepalanya dari selangkanganku. Aku hampir saja terjatuh dari dudukku karena pantatku tanpa sadar bergerak maju mengejar wajah Parjo yang ditariknya.

Parjo benar-benar mempermainkan aku. Saat aku sudah menjelang orgasme, tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya yang belum tuntas. Napasku sudah ngos-ngosan karena didera nafsu. Parjo yang sudah berdiri di depanku mulai melepas gespernya dan memerosotkan celana sekaligus CD-nya hingga ke lututnya. Aku benar-benar terkejut melihat kontol Parjo yang luar biasa. Besar dan panjang.. Luar biasa. Aku ngeri melihatnya. Jangan-jangan memekku bisa jebol dibuatnya. Benar-benar sesuai dengan ukuran tubuhnya yang perkasa.

Kontol Parjo yang perkasa berdiri tegak mengacung ke arah wajahku yang terpaku melihatnya. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk berlama-lama melihat kontolnya yang perkasa, Parjo segera menarik tubuhku dan membaliknya. Kini aku berdiri menghadap cermin. Kedua tanganku bertumpu di atas toilet yang tadi kududuki. Tangan Parjo yang kekar mendorong punggungku sedikit membungkuk hingga pantatku agak menungging. Lalu kedua kakiku digesernya agar lebih membuka.

Bulu-bulu di tubuhku mulai merinding saat ada benda hangat dan tumpul mulai bergesek-gesek di bibir kemaluanku mencoba masuk. Lubang memekku yang sudah licin sangat membantu penetrasi yang dilakukan Parjo dari arah belakang.

"Oghh.." kudengar Parjo menahan napas saat ujung kontolnya yang seperti topi baja mulai terjepit labia mayoraku. Aku pun tak mampu bernapas karena benda itu terasa sesak sekali mengganjal selangkanganku.
"Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh" aku mendesis tercekat.

Parjo agak kesulitan mendorong kontolnya masuk ke dalam lubang memekku yang agak kesempitan menerima serbuannya. Aku sendiri heran, aku yang sudah pernah melahirkan terasa seperti perawan saja saat ditembus batang kontolnya. Terus terang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan milik suamiku. Aku menjadi lupa diri saat itu. Yang kutahu aku harus menuntaskan gairah napsuku.

Berkali-kali Parjo terus mendorong batang kontolnya. Tanpa sadar aku ikut membantunya dengan menggeser pantatku hingga kontol Parjo terdorong masuk. Tubuhku bergetar karena seluruh lubang memekku seperti tergesek oleh besarnya kontol Parjo yang baru masuk kira-kira setengahnya saja.

"Ouchh.. Hhahh.." aku berkali-kali pula mendesis menahan nikmat yang kembali naik ke kepalaku.

Dengan pelan Parjo kembali menarik batang kontolnya dari jepitan lubang memekku. Didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam lubang memekku yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan besarnya kontol Parjo. Sekarang gerakan maju mundur batang kontol Parjo mulai lancar.

"Hugghh.." kami sama-sama menahan napas saat kurasakan seluruh batang kontol Parjo sudah masuk ke dalam jepitan lubang memekku hingga ke pangkalnya. Itu aku rasakan karena pantatku menempel ketat pada kantung biji telur kemaluan Parjo. Lubang memekku terasa berdenyut-denyut meremas batang kontol Parjo yang memenuhi lubang memekku. Panjang sekali batang kontolnya hingga mulut rahimku seolah-olah seperti tersodok benda tumpul. Tubuh kami terdiam seperti terpatok satu sama lain oleh pasak yang menyumpal lubang kemaluanku.

Tangan Parjo yang tadinya memegang kedua sisi pinggulku mulai menyusup ke dalam gaunku dan bergerak meremas kedua toketku. Tangannya yang kasar membuat tubuhku menggelinjang saat meremas toketku yang sudah terlepas dari BH-ku. Kait BH-ku memang ada di depan hingga mudah bagi Parjo melepas penjepitnya.

Mataku terpejam menahan desakan napsu yang mulai mendesak dari perutku. Dengan pelan Parjo mulai menarik batang kontolnya dari jepitan lubang memekku lalu mendorongnya kembali. Tubuhku mulai bergetar saat batang kontolnya menggesek-gesek seluruh dinding memekku.


Ke Bagian 3

[super-related-posts related_post="1"]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses